Key Takeaways
Global
- Harga Brent tercatat volatil sepanjang pekan yang sempat di bawah level USD 82/barel pada Jumat pagi sebelum ditutup sekitar USD83,55/barel.
- Indeks dolar turun 0,5% menjadi 99,4 mendekati level terendah dalam dua bulan setelah data ketenagakerjaan AS mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
- Yield US Treasury 10 tahun anjlok tajam 7 bps ke 4,6% pada Jumat, setelah data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan.
- Surplus perdagangan China naik menjadi US$112,5 miliar pada Juli 2026, didukung pertumbuhan ekspor sebesar 23,9% YoY.
Domestik
- Pertumbuhan ekonomi Indonesia Kuartal II 2026 tercatat 5,29% YoY, melampaui konsensus pasar, ditopang konsumsi rumah tangga dan investasi.
- IHSG ditutup menguat +1,04% ke level 6.409,65 per 7 Agustus 2026.
- Rupiah menguat ke Rp17.913/USD, melanjutkan tren apresiasi di tengah pelemahan indeks dolar AS.
- Yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun berada di sekitar 7,30% pada 7 Agustus 2026, menunjukkan tekanan yang masih berlangsung di pasar obligasi domestik.
Sentimen Global
Pasar global pekan lalu diawali oleh perhatian terhadap data tenaga kerja AS yang lebih lemah dari perkiraan. Jumlah tenaga kerja di luar sektor pertanian (nonfarm payrolls) turun 23 ribu pada Juli 2026 menjadi 158,858 juta. Data ini membuat pasar menilai kemungkinan berkurangnya ekspektasi The Fed menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Dampaknya, yield US Treasury 10 tahun turun ke sekitar 4,6%, sedangkan indeks dolar AS melemah ke level 99,4.
Dari pasar komoditas, harga minyak Brent masih bergerak cukup volatil dan sempat turun di bawah USD82 per barel sebelum ditutup di atas USD83 per barel (07/08/2026). Secara mingguan, Brent turun lebih dari 7% seiring munculnya harapan bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz dapat kembali dibuka.
Sentimen lain datang dari perdagangan China. Surplus perdagangan meningkat menjadi US$112,5 miliar pada Juli 2026, melampaui perkiraan pasar, dengan ekspor tumbuh 23,9% YoY. Pertumbuhan tersebut antara lain didukung oleh pengiriman produk teknologi terkait AI, menunjukkan permintaan global terhadap produk China masih cukup kuat.
Sentimen Domestik
Di dalam negeri, salah satu sentimen utama datang dari pertumbuhan ekonomi Indonesia Kuarta II 2026. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% year-on-year dengan inflasi sebesar 3,34% pada kuartal yang sama (per Juni 2026).
Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 15,97% YoY. Sementara dari sisi sektor usaha, pengadaan listrik dan gas tumbuh paling tinggi sebesar 10,81% YoY. Data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi domestik masih mampu mencatat pertumbuhan di tengah ketidakpastian global.
Sentimen positif juga terlihat di pasar saham, dengan IHSG yang mengalami kenaikan pada penutupan perdagangan pada Jumat, 7 Agustus 2026 sebesar 1,04% ke level 6.409,65. Di saat sama Rupiah ikut bergerak menguat ke level Rp17.913 per dolar AS. Penguatan rupiah berlangsung di tengah melemahnya dolar AS secara global.
Sementara itu, yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun berada di sekitar 7,30%, lebih rendah dibandingkan yield tenor 1 tahun sebesar 7,675%. Kondisi ini menunjukkan terjadinya invented yield curve, yaitu ketika yield obligasi jangka pendek lebih tinggi dibandingkan yield obligasi jangka panjang. Hal ini menunjukkan bahwa pasar obligasi masih menghadapi tekanan, meskipun sentimen pada saham dan rupiah mulai membaik.
Capital & Fund Performance


Ayovest’s Wrap
Pasar menunjukkan bahwa sentimen mulai membaik, tetapi belum berarti seluruh risiko telah mereda. Dari global, melemahnya data tenaga kerja AS mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, mendorong penurunan yield US Treasury dan pelemahan dolar AS. Di saat yang sama, harga minyak Brent turun seiring meredanya kekhawatiran pasokan yang sebelumnya sempat dipengaruhi oleh risiko gangguan di Selat Hormuz. Sementara itu, surplus perdagangan China yang meningkat menunjukkan ekspor masih tumbuh kuat.
Di dalam negeri, pertumbuhan ekonomi 5,29% YoY menunjukkan aktivitas ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh di tengah kondisi global yang tidak menentu. Sentimen tersebut berjalan bersama penguatan IHSG dan rupiah pada akhir pekan. Namun, yield obligasi pemerintah yang masih berada di sekitar 7,30% menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya lepas dari tekanan.
Artinya, setiap kelas aset masih dapat merespons kondisi pasar secara berbeda. Saham dan rupiah mendapat dukungan dari membaiknya sentimen, sementara pasar obligasi masih menunjukkan kehati-hatian.
Dengan perubahan sentimen yang masih dapat berlangsung cepat, investor dapat tetap menjaga strategi investasi sesuai tujuan keuangan, jangka waktu, dan profil risiko, serta mempertahankan diversifikasi agar portofolio tidak terlalu bergantung pada pergerakan satu kelas aset.
DISCLAIMER: INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. SEBELUM MEMUTUSKAN BERINVESTASI, CALON INVESTOR WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS. KINERJA MASA LALU TIDAK MENJAMIN/ MENCERMINKAN INDIKASI KINERJA DI MASA YANG AKAN DATANG.
Reksa dana merupakan produk Pasar Modal dan bukan produk yang diterbitkan oleh Agen Penjual Efek Reksa Dana. PT Generasi Paham Investasi selaku Agen Penjual Efek Reksa Dana tidak bertanggung jawab atas tuntutan dan risiko pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Investor wajib membaca dan memahami Laporan Kinerja Reksa Dana (Fund Fact Sheet) dan Prospektus dari produk yang diterbitkan oleh Manajer Investasi untuk kebutuhan informasi dan bukan merupakan suatu bentuk penawaran atau rekomendasi untuk membeli atau permintaan untuk menjual. Kinerja masa lalu tidak serta merta menjadi petunjuk untuk kinerja di masa mendatang, dan bukan juga merupakan perkiraan yang dibuat untuk memberikan indikasi mengenai kinerja atau kecenderungannya di masa mendatang.
Glosarium
IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan)
Indeks yang mencerminkan pergerakan seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). IHSG digunakan sebagai indikator utama untuk melihat kinerja pasar saham Indonesia.
The Fed (Federal Reserve)
Bank sentral Amerika Serikat yang bertugas mengatur kebijakan moneter, termasuk menetapkan suku bunga acuan guna menjaga stabilitas ekonomi dan inflasi.
Suku Bunga Acuan (Federal Funds Rate)
Tingkat suku bunga yang ditetapkan oleh bank sentral sebagai acuan bagi perbankan. Perubahannya dapat memengaruhi biaya pinjaman, investasi, dan pergerakan pasar keuangan.
Yield
Tingkat imbal hasil yang diperoleh investor dari suatu instrumen investasi, seperti obligasi. Umumnya, harga obligasi dan yield bergerak berlawanan arah.
US Treasury
Surat utang yang diterbitkan Pemerintah Amerika Serikat dan menjadi salah satu instrumen investasi paling aman (safe haven) sekaligus acuan tingkat suku bunga global.
Brent Crude Oil
Jenis minyak mentah acuan internasional yang digunakan sebagai referensi harga minyak dunia, khususnya di kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika.
Geopolitik
Kondisi politik dan hubungan antarnegara yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi, perdagangan internasional, dan pergerakan pasar keuangan global.
Rupiah
Mata uang resmi Indonesia yang nilai tukarnya terhadap mata uang asing dipengaruhi oleh kondisi ekonomi domestik maupun global.
Dolar AS (USD)
Mata uang resmi Amerika Serikat yang menjadi mata uang cadangan utama dunia dan acuan dalam perdagangan internasional.
YoY (Year-on-Year)
Metode perbandingan data ekonomi dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya untuk melihat tingkat pertumbuhan atau perubahan.
Invented Yield Curve
Kondisi ketika tingkat imbal hasil (yield) obligasi jangka pendek lebih tinggi daripada obligasi jangka panjang
Nonfarm payrolls
laporan ketenagakerjaan yang dirilis setiap bulan, biasanya pada hari Jumat pertama setiap bulan, dan sangat memengaruhi dolar AS, pasar obligasi, dan pasar saham.
.
Editor: Cendry Sudirman (berlisensi Wakil Manajer Investasi (WMI))









