Key Takeaways
Global
- The Fed naik 25 bps. The Fed menaikkan suku bunga ke 3,75%–4,00% dengan suara bulat 12–0, kenaikan pertama sejak 2023. Median proyeksi akhir 2026 berada di 4,1%. Risiko pendanaan global ikut naik dan aset berisiko lebih tertekan.
- Yield UST 10 tahun tertinggi dalam hampir dua dekade. Yield ditutup 5,29% pada 30 September, naik sekitar 0,5 poin dalam sebulan, dan sempat melewati 5,34% di pekan terakhir.
- Brent naik, emas turun. Brent ditutup US$98,03 (+10,93% MTD), WTI US$90,08 (+4,31%). Emas turun 6,89% ke US$4.185,15 dan perak 9,56%, sementara indeks dolar naik 2,09% ke 101,50. Dolar dan yield yang lebih tinggi menekan emas. (Pasardana). Brent sempat bertahan di atas US$100 selama September. Bloomberg mencatat Brent mendekati US$103 pada 29 September.
- Inflasi dan tenaga kerja AS. CPI Agustus naik 3,4% yoy dan inti 2,4%, dengan energi naik 16,3% yoy. PCE Agustus 3,4% di bawah perkiraan 3,7%.
- Pengetatan menyebar. ECB menaikkan tiga suku bunga acuannya 25 bps pada 10 September, Inflasi Eropa naik ke 3,8%. BoJ menaikkan ke 1,25%, Inflasi Konsumen Jepang naik menjadi 2,7%.
- Bursa Global: Dow Jones -4,29% ke 50.906,05, S&P 500 -0,45% ke 7.651,54, Nasdaq +1,86% ke 26.861,06. Nikkei 225 +1,41% ke 66.753,72, Shanghai -3,62% ke 3.842,19, Hang Seng -3,73% ke 24.613,27. Euro Stoxx 50 -2,31% ke 6.267,95, DAX -4,03% ke 25.199,19, CAC 40 -4,44% ke 7.964,51, FTSE 100 -2,02% ke 10.606,00, VIX +9,52% ke 16,34.
Domestik
- IHSG turun 6,96% ke 6.071,14. Seluruh indeks sektoral melemah kecuali industri (+1,54%), dengan teknologi turun paling dalam (-14,14%). Net sell asing sepanjang 2026 mencapai Rp77,52 triliun per 25 September.
- BI menahan BI-Rate 5,75%. RDG 22–23 September juga mempertahankan Deposit Facility 4,75% dan Lending Facility 6,50%, serta memperkuat insentif aliran modal asing. Ini RDG pertama di bawah Gubernur Destry Damayanti.
- Rupiah melemah, yield SBN lebih terbatas. USD/IDR di Rp17.855, rupiah melemah 0,93%. Yield SBN 10 tahun 7,106%.
- Inflasi September 3,28% yoy. Inflasi bulanan 0,30%, didorong pangan dan emas perhiasan. Inflasi inti 2,84% yoy.
- Sektor eksternal. Surplus dagang Agustus US$3,55 miliar (ekspor US$26,61 miliar, impor US$23,06 miliar), dan kumulatif Januari–Agustus US$7,25 miliar. Cadangan devisa Agustus US$146,5 miliar, setara 5,4 bulan impor.
- Pergantian Menteri Keuangan. Suahasil Nazara dilantik 14 September menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa.

Sentimen Global
Gangguan pasokan di sekitar Selat Hormuz menahan Brent di sekitar US$100, naik 10,93% sepanjang bulan. Energi yang mahal terlihat di inflasi: CPI AS Agustus 3,4% dengan komponen energi naik 16,3%, jauh di atas inflasi inti 2,4%. Biaya BBM dan ongkos angkut yang naik lalu menjalar ke harga barang dan jasa lain.
Dari situ arah kebijakan berbalik. The Fed menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023, sementara ECB dan BoJ ikut menaikkan. Yield obligasi adalah imbal hasil yang diminta investor, dan ia bergerak berlawanan dengan harga obligasi. Yield UST 10 tahun naik sekitar 0,5 poin ke 5,29%, level tertinggi dalam hampir dua dekade.
Yield dan dolar yang naik mengubah penilaian aset. Indeks dolar naik 2,09% dan emas turun 6,89%, karena emas tidak memberi imbal hasil sementara obligasi dan dolar menjadi lebih menarik. Saham bereaksi tidak seragam: Dow Jones -4,29% dan indeks Eropa turun 2,02%–4,44%, tetapi Nasdaq naik 1,86% dan Nikkei 1,41%. Hang Seng dan Shanghai turun sekitar 3,6%–3,7%. VIX naik ke 16,34, tanda kewaspadaan meningkat.
Di akhir bulan sinyalnya campuran. PCE Agustus lebih rendah dari perkiraan, tetapi harga minyak dan yield masih tinggi. Data yang dinanti: CPI AS 14 Oktober dan keputusan FOMC 28 Oktober, serta perkembangan negosiasi AS–Iran dan jalur Hormuz.
Sentimen Domestik
IHSG turun 6,96% ke 6.071,14. Pemicu utamanya global, yaitu kenaikan suku bunga The Fed yang memicu aksi jual investor asing. Tekanan paling terasa pada saham berkapitalisasi besar, terutama perbankan (indeks perbankan -7,38%). Pergantian Menteri Keuangan menambah kehati-hatian, tetapi pelaku pasar menilai pengaruhnya lebih kecil dari tekanan global.
Di pasar valas, selisih suku bunga menyempit: BI-Rate 5,75% berbanding Fed Funds 3,75%–4,00%. BI menahan suku bunga dan menegaskan fokus pada stabilisasi rupiah. Rupiah melemah 0,83% ke Rp17.855 dan sempat mendekati Rp18.000 di akhir bulan.
Di pasar obligasi, tekanan lebih terbatas dibanding yield UST. Yield SBN 10 tahun berada di 7,16% per 2 Oktober, sedangkan indeks yield efektif INDOBeX Pemerintah naik sekitar 14 bps pada September. Dari sisi fundamental, inflasi 3,28% masih dalam sasaran BI (2,5±1%), surplus dagang Agustus US$3,55 miliar, dan cadangan devisa US$146,5 miliar masih jauh di atas standar kecukupan sekitar 3 bulan impor.
Yang perlu dicermati: RDG BI 20–21 Oktober, rilis cadangan devisa September, kepercayaan konsumen dan penjualan ritel (menurut TE dijadwalkan pekan pertama Oktober), arus dana asing, dan kebijakan fiskal di bawah Menteri Keuangan baru.
Capital & Fund Performance


Ayovest’s Wrap
September memperlihatkan bagaimana satu rantai peristiwa global, yaitu energi, inflasi, suku bunga, lalu yield, bisa menggerakkan banyak aset sekaligus. IHSG turun 6,96%, rupiah melemah, emas turun, dan yield obligasi naik. Nasdaq justru masih menguat, jadi tiap kelas aset merespons kondisi yang sama dengan cara berbeda.
Pergerakan satu bulan tidak cukup untuk menilai sebuah investasi, dan hasil masa lalu tidak bisa dijadikan patokan masa depan. Reksa dana saham, campuran, pendapatan tetap, dan pasar uang punya karakter risiko yang berbeda. Yang perlu ditanyakan ulang adalah kesesuaian profil risiko Anda, lama horizon investasi, dan sebaran portofolio agar tidak bergantung pada satu faktor.
Reksa dana mengandung risiko, jadi pelajari prospektus dan fund fact sheet sebelum berinvestasi. Ayovest adalah Agen Penjual Efek Reksa Dana dan tidak memberikan rekomendasi beli atau jual atas produk tertentu.
DISCLAIMER: INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. SEBELUM MEMUTUSKAN BERINVESTASI, CALON INVESTOR WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS. KINERJA MASA LALU TIDAK MENJAMIN/ MENCERMINKAN INDIKASI KINERJA DI MASA YANG AKAN DATANG.
Reksa dana merupakan produk Pasar Modal dan bukan produk yang diterbitkan oleh Agen Penjual Efek Reksa Dana. PT Generasi Paham Investasi selaku Agen Penjual Efek Reksa Dana tidak bertanggung jawab atas tuntutan dan risiko pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Investor wajib membaca dan memahami Fund Fact Sheet dan Prospektus dari produk yang diterbitkan oleh Manajer Investasi untuk kebutuhan informasi dan bukan merupakan suatu bentuk penawaran atau rekomendasi untuk membeli atau permintaan untuk menjual. Kinerja masa lalu tidak serta merta menjadi petunjuk untuk kinerja di masa mendatang, dan bukan juga merupakan perkiraan yang dibuat untuk memberikan indikasi mengenai kinerja atau kecenderungannya di masa mendatang.
Glosarium
BI-Rate: suku bunga acuan Bank Indonesia. Kenaikannya cenderung menaikkan bunga kredit dan deposito.
Fed Funds Rate / FOMC: suku bunga acuan bank sentral AS, ditetapkan rapat FOMC. Per September berada di 3,75%–4,00%.
Yield: imbal hasil yang dituntut investor obligasi. Ia bergerak berlawanan dengan harga obligasi: yield naik berarti harga turun.
SUN / SBN: Surat Utang Negara / Surat Berharga Negara, obligasi yang diterbitkan pemerintah Indonesia.
UST (US Treasury): obligasi pemerintah AS, dan yield-nya jadi patokan global.
bps (basis poin): satu per seratus persen. 25 bps sama dengan 0,25%.
Brent: harga minyak mentah acuan global, sering memengaruhi inflasi dan biaya impor.
YoY / MoM / MTD / YTD: perubahan dibanding tahun lalu / bulan lalu / sejak awal bulan / sejak awal tahun.
Inflasi inti: inflasi tanpa komponen harga yang sangat fluktuatif, seperti pangan dan energi.
PCE: ukuran inflasi AS yang dicermati The Fed.
VIX: indeks yang mengukur kegelisahan pasar saham AS. Makin tinggi berarti pasar makin waspada.
Indeks Dolar (DXY): ukuran kekuatan dolar AS terhadap beberapa mata uang utama.
Cadangan devisa: simpanan valas negara yang menopang stabilitas rupiah. Dibandingkan dengan kebutuhan impor, standar kecukupan sekitar 3 bulan.
Neraca perdagangan: selisih nilai ekspor dan impor. Surplus berarti ekspor lebih besar.
Risk-off: kondisi saat investor mengurangi aset berisiko dan beralih ke yang dianggap lebih aman.
Net sell asing: nilai penjualan investor asing lebih besar daripada pembeliannya di bursa.
Deposit Facility / Lending Facility: suku bunga tempat bank menyimpan dana di BI (4,75%) dan meminjam dari BI (6,50%).









