Key Takeaways:
Global:
- Yield US Treasury kembali naik, dengan yield 10Y di 4,74%, mencerminkan kekhawatiran atas fiskal, pasokan utang, dan inflasi AS.
- Harga energi melonjak di tengah meningkatnya ketegangan AS–Iran; WTI naik di atas USD87/barel dan Brent mencapaiUSD94,39/barel.
- Arah kebijakan The Fed kembali menjadi perhatian menjelang Jackson Hole, setelah risalah FOMC menunjukkan masih terbukanya peluang kebijakan yang lebih ketat.
- Harga emas menguat ke sekitar USD4.600/troy ounce, mencatat kenaikan mingguan ketiga di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar.
Domestik:
- BI mempertahankan BI Rate di 5,75%, dengan fokus menjaga stabilitas Rupiah, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi.
- IHSG menguat 1,93% WoW ke 6.525,69, didukung penguatan Rupiah dan kembalinya aliran dana asing.
- Rupiah menguat ke Rp17.705/USD,dari Rp17.836/USD pada pekan sebelumnya.
- Pasar obligasi menguat, dengan yield SUN 10Y turun 23 bps WoW ke 6,96%, serta Yield SUN 1 tahun 7,55%.
- Defisit transaksi berjalan Q2 melebar menjadi USD12,5 miliar atau 3,3% PDB.
Sentimen Global: Yield AS dan Harga Minyak Kembali Menjadi Perhatian
Yield US Treasury kembali meningkat. Yield 10 tahun berada di sekitar 4,707%, sementara Yield 1 tahun berada di sekitar 4,034% mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal AS, meningkatnya pasokan utang, serta risiko inflasi yang masih persisten.
Kenaikan yield menjadi perhatian bagi pasar global karena dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar AS sekaligus memberikan tekanan terhadap aset berisiko, termasuk saham dan obligasi di negara berkembang.
Di saat yang sama, harga minyak kembali melonjak di tengah meningkatnya ketegangan AS–Iran. WTI naik ke atas USD87 per barel, sementara Brent mencapai sekitar USD94,39 per barel. Kenaikan harga energi berpotensi kembali meningkatkan tekanan inflasi apabila berlangsung dalam waktu yang panjang.
Pasar juga mulai menantikan arah kebijakan The Fed. Risalah FOMC Juli menunjukkan bahwa sejumlah pejabat masih membuka kemungkinan kebijakan yang lebih ketat apabila inflasi belum menunjukkan penurunan yang meyakinkan. Fokus investor selanjutnya akan tertuju padaJackson Hole Economic Policy Symposium pada 27–29 Agustus,yang berpotensi memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS ke depan.
Di tengah meningkatnya ketidakpastian, emas kembali menjadi aset yang dicermati investor. Harga emas naik ke sekitarUSD4.600 per troy ounce dan mencatat penguatan mingguan ketiga, didukung meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven.
Sentimen Domestik: Rupiah dan IHSG Mulai Mendapat Dukungan
Berbeda dengan tekanan di pasar global, pasar domestik menunjukkan perkembangan yang lebih positif. Dalam RDG 18–19 Agustus, Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 5,75%, sementara Deposit Facility dan Lending Facility masing-masing dipertahankan di 4,75% dan 6,50%. Kebijakan ini menunjukkan fokus BI untuk menjaga stabilitas Rupiah dan inflasi, sembari tetap mendukung pertumbuhan ekonomi.
Sentimen positif juga terlihat di pasar saham. IHSG menguat 1,93% WoW ke level 6.525,69, didukung oleh penguatan Rupiah dan kembali masuknya aliran dana asing ke pasar saham.
Rupiah sendiri menguat menjadiRp17.705/USD, dari Rp17.836/USD pada pekan sebelumnya. Penguatan Rupiah menjadi katalis positif bagi aset domestik karena dapat membantu meredam tekanan dari kenaikan yield US Treasury dan mengurangi risiko imported inflation.
Tak hanya itu, Yield SUN 10 tahun turun 23 bps WoW menjadi sekitar 6,96%, serta Yield SUN 1 tahun 7,55%. menunjukkan meningkatnya permintaan terhadap obligasi pemerintah.
Namun, investor tetap perlu memperhatikan sisi eksternal ekonomi Indonesia. Defisit transaksi berjalan pada kuartal II melebar menjadi USD12,5 miliar atau sekitar 3,3% PDB. Perkembangan ini menjadi salah satu risiko yang perlu dipantau karena dapat memengaruhi kebutuhan pembiayaan eksternal dan stabilitas Rupiah.
Capital Market & Fund Performance


Ayovest’s Wrap
Pasar global masih menghadapi sejumlah tantangan. Kenaikan yield US Treasury, harga minyak yang kembali meningkat, serta ketidakpastian arah kebijakan The Fed membuat volatilitas pasar berpotensi tetap tinggi dalam jangka pendek.
Namun, pasar domestik menunjukkan tanda-tanda yang lebih konstruktif. BI mempertahankan BI Rate di 5,75%, Rupiah menguat, IHSG mencatat kenaikan mingguan, dan yield SUN 10 tahun kembali turun. Masuknya kembali dana asing ke saham, tercatat sebesar Rp2,23 triliun dan SBN juga menjadi sinyal bahwa investor mulai melihat peluang pada aset Indonesia.
Bagi investor, kondisi ini menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan antara peluang dan risiko. Penguatan pasar domestik dapat membuka peluang, tetapi ketidakpastian global belum sepenuhnya mereda.
Alih-alih mencoba menebak pergerakan pasar jangka pendek, investor dapat mempertimbangkan investasi secara bertahap, menjaga diversifikasi, dan menyesuaikan portofolio dengan profil risiko serta tujuan keuangan masing-masing.
Pasar tidak selalu bergerak sesuai ekspektasi. Yang dapat dikendalikan investor adalah bagaimana mereka mempersiapkan dan menjaga portofolionya menghadapi setiap perubahan pasar.
DISCLAIMER: INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. SEBELUM MEMUTUSKAN BERINVESTASI, CALON INVESTOR WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS. KINERJA MASA LALU TIDAK MENJAMIN/ MENCERMINKAN INDIKASI KINERJA DI MASA YANG AKAN DATANG.
Reksa dana merupakan produk Pasar Modal dan bukan produk yang diterbitkan oleh Agen Penjual Efek Reksa Dana. PT Generasi Paham Investasi selaku Agen Penjual Efek Reksa Dana tidak bertanggung jawab atas tuntutan dan risiko pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Investor wajib membaca dan memahami Laporan Kinerja Reksa Dana (Fund Fact Sheet) dan Prospektus dari produk yang diterbitkan oleh Manajer Investasi untuk kebutuhan informasi dan bukan merupakan suatu bentuk penawaran atau rekomendasi untuk membeli atau permintaan untuk menjual. Kinerja masa lalu tidak serta merta menjadi petunjuk untuk kinerja di masa mendatang, dan bukan juga merupakan perkiraan yang dibuat untuk memberikan indikasi mengenai kinerja atau kecenderungannya di masa mendatang.
Glosarium:
Aset Berisiko (Risk Assets)
Aset investasi yang nilainya cenderung lebih sensitif terhadap perubahan kondisi ekonomi dan sentimen pasar, seperti saham.
BI Rate
Suku bunga kebijakan Bank Indonesia yang menjadi salah satu acuan dalam menentukan kondisi moneter dan suku bunga di pasar keuangan Indonesia.
Brent Crude Oil
Minyak mentah yang menjadi salah satu acuan harga minyak dunia dan banyak digunakan dalam perdagangan energi global.
Deposit Facility
Fasilitas Bank Indonesia bagi bank untuk menempatkan dana di BI dalam jangka pendek.
Defisit Transaksi Berjalan (Current Account Deficit)
Kondisi ketika transaksi berjalan suatu negara mengalami defisit, yaitu ketika pembayaran ke luar negeri lebih besar daripada penerimaan dari luar negeri dalam transaksi barang, jasa, pendapatan, dan transfer.
Fiskal
Hal yang berkaitan dengan keuangan pemerintah, termasuk penerimaan negara, pengeluaran pemerintah, pajak, dan pembiayaan anggaran.
FOMC (Federal Open Market Committee)
Komite di dalam Federal Reserve yang bertanggung jawab menetapkan arah kebijakan moneter Amerika Serikat, termasuk suku bunga.
IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan)
Indeks yang menggambarkan pergerakan harga saham perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.
Inflasi
Kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan berkelanjutan dalam suatu periode.
Jackson Hole Economic Policy Symposium
Pertemuan tahunan yang mempertemukan pejabat bank sentral, ekonom, dan akademisi untuk membahas perkembangan ekonomi serta kebijakan moneter.
Lending Facility
Fasilitas pendanaan dari Bank Indonesia kepada bank yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas jangka pendek.
Monetary Policy (Kebijakan Moneter)
Kebijakan bank sentral untuk mengatur suku bunga dan likuiditas guna menjaga stabilitas harga serta mendukung perekonomian.
Rupiah
Mata uang resmi Indonesia. Nilai tukarnya terhadap mata uang asing, termasuk dolar AS, dipengaruhi oleh kondisi ekonomi domestik dan global.
Safe Haven
Aset yang cenderung dicari investor ketika ketidakpastian atau volatilitas pasar meningkat karena dianggap relatif mampu mempertahankan nilainya.
SBN (Surat Berharga Negara)
Surat berharga yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia untuk membiayai kebutuhan negara.
The Fed (Federal Reserve)
Bank sentral Amerika Serikat yang bertanggung jawab atas kebijakan moneter, termasuk pengaturan suku bunga.
Transaksi Berjalan (Current Account)
Bagian dari neraca pembayaran yang mencatat transaksi barang, jasa, pendapatan, dan transfer antara suatu negara dengan negara lain.
US Treasury
Surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah Amerika Serikat untuk membiayai kebutuhan pemerintah.
WTI (West Texas Intermediate)
Salah satu minyak mentah acuan dunia yang banyak digunakan sebagai referensi harga minyak, khususnya di pasar Amerika Serikat.
WoW (Week-on-Week)
Perbandingan suatu data dengan periode satu minggu sebelumnya.
Yield
Tingkat imbal hasil yang diperoleh investor dari suatu instrumen investasi, seperti obligasi.
Yield US Treasury 10 Tahun (10Y)
Tingkat imbal hasil surat utang pemerintah AS dengan tenor 10 tahun yang menjadi salah satu acuan penting bagi pasar keuangan global.
Yield SUN 10 Tahun
Tingkat imbal hasil Surat Utang Negara Indonesia dengan tenor 10 tahun yang menjadi salah satu indikator kondisi pasar obligasi domestik.
Penulis/Editor: Cendry Sudirman (berlisensi Wakil Manajer Investasi (WMI))









