Key Takeaways
Global
- Lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah mendorong kembali kekhawatiran inflasi global
- Yield obligasi pemerintah AS naik karena pasar menunda ekspektasi penurunan suku bunga.
- Risiko geopolitik meningkatkan sentimen risk-off di pasar global.
Domestik
- Inflasi Indonesia Februari 2026 tercatat 4,76% yoy, tertinggi sejak Maret 2023, didorong oleh efek basis rendah tarif listrik dan kenaikan harga pangan musiman menjelang Ramadan.
- Rupiah melemah ke Rp16.919/USD, tertekan arus keluar modal asing dan meningkatnya permintaan dolar AS.
- Cadangan devisa turun menjadi USD 151,9 miliar akibat intervensi stabilisasi rupiah dan pembayaran utang luar negeri.
- Fitch mempertahankan rating Indonesia di BBB namun merevisi outlook menjadi negatif.
- IHSG terkoreksi tajam hampir 8% dalam sepekan di tengah tekanan global dan capital outflow.
Global : Gejolak Energi Global dan Yield AS Naik, Inflasi Indonesia Tertekan
Lonjakan harga energi kembali memicu kekhawatiran baru terhadap tekanan inflasi global pada awal Maret 2026. Pasar keuangan internasional memasuki pekan pertama bulan ini dengan volatilitas yang meningkat setelah konflik di Timur Tengah kembali memanas dan mengganggu jalur distribusi energi dunia.
Ketegangan geopolitik tersebut berdampak langsung pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz salah satu jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia yang dilaporkan mengalami gangguan signifikan. Kekhawatiran terhadap potensi terganggunya pasokan energi global mendorong kenaikan harga minyak dalam waktu singkat.
Dalam sepekan terakhir, harga minyak dunia mencatat lonjakan yang cukup tajam. Minyak jenis Brent sempat naik hingga mendekati US$85 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) bergerak di kisaran US$81 per barel.
Tak hanya itu, perubahan ekspektasi tersebut tercermin dari pergerakan pasar obligasi global. Yield obligasi pemerintah Amerika Serikat meningkat di hampir seluruh tenor seiring investor menyesuaikan proyeksi suku bunga ke depan.
Yield US Treasury tenor 10 tahun tercatat naik ke sekitar 4,22%, sementara yield US Treasury tenor 5 tahun berada di kisaran 3,72%, atau naik sekitar 20 basis poin secara mingguan.
Kenaikan imbal hasil obligasi ini juga didukung oleh data ekonomi Amerika Serikat yang masih menunjukkan ketahanan. Indeks ISM Services tercatat di level 56,1, sementara ISM Manufacturing berada di 52,4, keduanya masih berada di zona ekspansi.
Data tersebut memperkuat pandangan bahwa aktivitas ekonomi AS masih cukup solid, sehingga membuka kemungkinan bahwa pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral mungkin tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Kombinasi antara tekanan inflasi dari harga energi dan kekuatan ekonomi AS inilah yang kemudian mendorong pasar global untuk menyesuaikan kembali ekspektasi terhadap arah suku bunga ke depan.
Domestic: Dinamika Inflasi Indonesia Februari 2026
Inflasi Indonesia pada Februari 2026 tercatat sebesar 4,76% (yoy), meningkat signifikan dan menjadi level tertinggi sejak Maret 2023. Kenaikan ini terutama dipicu oleh efek basis rendah pada tarif listrik setelah berakhirnya program diskon listrik tahun sebelumnya, serta kenaikan harga pangan musiman menjelang Ramadan yang mendorong peningkatan harga sejumlah komoditas bahan makanan.
Di pasar keuangan, nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan dan melemah hingga sekitar Rp16.919 per dolar AS. Pelemahan ini dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan terhadap dolar AS secara global serta arus keluar modal asing dari pasar keuangan domestik, seiring meningkatnya ketidakpastian global dan penyesuaian ekspektasi suku bunga di negara maju.
Sementara itu, cadangan devisa Indonesia tercatat menurun menjadi sekitar USD151,9 miliar. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah, serta pembayaran kewajiban utang luar negeri pemerintah.
Dari sisi persepsi risiko kredit, Fitch Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB, yang masih berada dalam kategori investment grade. Namun lembaga pemeringkat tersebut merevisi outlook menjadi negatif, mencerminkan meningkatnya risiko eksternal serta tekanan terhadap stabilitas makroekonomi di tengah dinamika global yang lebih menantang.
Di pasar saham domestik, sentimen negatif global dan keluarnya dana asing turut memberikan tekanan signifikan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat terkoreksi hampir 8% dalam sepekan, mencerminkan meningkatnya volatilitas pasar serta sikap hati-hati investor terhadap aset berisiko di emerging markets.
Capital & Fund Performance


Ayovest’s Wrap: Konflik Timur Tengah Dorong Lonjakan Energi, Risiko Inflasi Indonesia Menguat
Pekan pertama Maret 2026 kembali menegaskan betapa sensitifnya pasar keuangan global terhadap dinamika geopolitik. Memanasnya konflik di Timur Tengah mendorong lonjakan harga energi dunia dan pada saat yang sama mengubah ekspektasi pasar terhadap arah inflasi serta kebijakan moneter global.
Kenaikan harga minyak dan gas memicu kekhawatiran baru mengenai tekanan inflasi global yang berpotensi bertahan lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Kondisi ini turut meningkatkan volatilitas di pasar keuangan internasional, seiring investor menyesuaikan kembali ekspektasi terhadap arah suku bunga di berbagai negara.
Bagi Indonesia, tekanan yang muncul saat ini sebagian besar berasal dari faktor eksternal. Penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi global, serta meningkatnya sentimen risk-off di kalangan investor global turut memberikan tekanan terhadap pasar keuangan domestik, baik di pasar saham maupun obligasi.
Meski demikian, sejumlah indikator fundamental domestik masih menunjukkan ketahanan yang relatif solid. Cadangan devisa Indonesia tetap berada pada level yang kuat. Bagi investor reksa dana, kondisi ini dapat tercermin pada pergerakan nilai aktiva bersih (NAB) yang lebih fluktuatif, terutama pada produk yang memiliki eksposur besar terhadap pasar saham maupun obligasi jangka panjang. Reksa dana saham cenderung lebih sensitif terhadap perubahan sentimen global, sementara reksa dana pendapatan tetap dapat terpengaruh oleh pergerakan yield obligasi.
Di tengah kondisi tersebut, strategi investasi yang disiplin menjadi semakin penting. Diversifikasi portofolio antar kelas aset serta pendekatan investasi dengan horizon jangka menengah hingga panjang dapat membantu investor reksa dana meredam dampak volatilitas pasar sekaligus tetap menangkap potensi pertumbuhan di masa mendatang.
DISCLAIMER: INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. SEBELUM MEMUTUSKAN BERINVESTASI, CALON INVESTOR WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS. KINERJA MASA LALU TIDAK MENJAMIN/ MENCERMINKAN INDIKASI KINERJA DI MASA YANG AKAN DATANG.
Reksa dana merupakan produk Pasar Modal dan bukan produk yang diterbitkan oleh Agen Penjual Efek Reksa Dana. PT Generasi Paham Investasi selaku Agen Penjual Efek Reksa Dana tidak bertanggung jawab atas tuntutan dan risiko pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Investor wajib membaca dan memahami Fund Fact Sheet dan Prospektus dari produk yang diterbitkan oleh Manajer Investasi untuk kebutuhan informasi dan bukan merupakan suatu bentuk penawaran atau rekomendasi untuk membeli atau permintaan untuk menjual. Kinerja masa lalu tidak serta merta menjadi petunjuk untuk kinerja di masa mendatang, dan bukan juga merupakan perkiraan yang dibuat untuk memberikan indikasi mengenai kinerja atau kecenderungannya di masa mendatang.
Glosarium:
Arus Keluar Modal (Capital Outflow): Kondisi ketika investor asing menarik investasinya dari suatu negara sehingga dana mengalir keluar dari pasar keuangan domestik.
Basis Poin (bps): Satuan untuk mengukur perubahan tingkat suku bunga atau yield obligasi. 1 basis poin = 0,01%.
Cadangan Devisa: Aset dalam mata uang asing yang dimiliki oleh bank sentral dan digunakan untuk menjaga stabilitas ekonomi serta nilai tukar mata uang.
Diversifikasi Portofolio: Strategi investasi dengan menyebarkan dana ke berbagai jenis aset untuk mengurangi risiko kerugian.
Emerging Markets: Negara dengan ekonomi yang sedang berkembang dan memiliki potensi pertumbuhan tinggi, termasuk Indonesia.
Fitch Ratings: lembaga pemeringkat kredit internasional
Geopolitik: Hubungan politik antarnegara yang dipengaruhi oleh faktor geografis, ekonomi, dan keamanan yang dapat berdampak pada kondisi ekonomi global.
IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan): Indeks yang mencerminkan pergerakan harga seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.
Inflasi: Kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam suatu periode waktu yang menyebabkan daya beli masyarakat menurun.
Inflasi Global: Kenaikan harga yang terjadi di banyak negara secara bersamaan, biasanya dipicu oleh faktor global seperti harga energi atau gangguan rantai pasok.
Investment Grade: Kategori peringkat utang yang menunjukkan bahwa suatu negara atau perusahaan memiliki risiko gagal bayar yang relatif rendah.
ISM Manufacturing Index: Indeks yang mengukur aktivitas sektor manufaktur di Amerika Serikat.
ISM Services Index: Indeks yang mengukur aktivitas sektor jasa di Amerika Serikat.
Kebijakan Moneter: Kebijakan yang dilakukan oleh bank sentral untuk mengatur jumlah uang beredar dan suku bunga guna menjaga stabilitas ekonomi.
Minyak Brent: Harga acuan minyak mentah global yang berasal dari wilayah Laut Utara dan sering digunakan sebagai benchmark pasar energi internasional.
NAB (Nilai Aktiva Bersih): Nilai total aset bersih yang dimiliki oleh suatu reksa dana setelah dikurangi kewajiban, biasanya dihitung per unit penyertaan.
Nilai Tukar Rupiah: Harga mata uang rupiah dibandingkan dengan mata uang negara lain, biasanya terhadap dolar AS.
Obligasi: Surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau perusahaan untuk mendapatkan dana dari investor dengan imbal hasil tertentu.
Outlook Negatif: Penilaian lembaga pemeringkat yang menunjukkan adanya kemungkinan penurunan peringkat utang di masa depan jika kondisi ekonomi memburuk.
Reksa Dana Pendapatan Tetap: Produk investasi yang mayoritas dananya diinvestasikan pada instrumen obligasi atau surat utang.
Reksa Dana Saham: Produk investasi yang sebagian besar dana kelolaannya ditempatkan pada saham.
Selat Hormuz: Jalur pelayaran strategis di Timur Tengah yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia.
US Treasury: Surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah Amerika Serikat dan dianggap sebagai salah satu instrumen investasi paling aman di dunia.
Volatilitas Pasar: Kondisi ketika harga aset di pasar keuangan seperti saham, obligasi, atau mata uang bergerak naik turun dengan cepat dalam waktu singkat.
West Texas Intermediate (WTI): Jenis minyak mentah yang menjadi acuan harga minyak di pasar Amerika Serikat.
Yield Obligasi: Tingkat imbal hasil yang diperoleh investor dari kepemilikan obligasi.






