Key Takeaways
Global
- Yield US Treasury 10 tahun turun ke 3,95%, mencerminkan ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed dan peningkatan permintaan obligasi
- Harga minyak Brent menguat, didorong kekhawatiran gangguan pasokan energi kawasan Timur Tengah.
- Emas naik hampir 1% ke atas USD 5.220 per ons, mempertegas pola defensif investor global.
- Indeks dolar AS naik di atas 98
Domestik
- IHSG turun 0,7% ke level 8.174, mengikuti tekanan global.
- Rupiah relatif stabil di kisaran Rp16.760–16.787/USD, menunjukkan fundamental eksternal masih terjaga.
- Yield SUN 10 tahun turun ke 6,43%, sejalan dengan tren penurunan yield global.
Perang Iran vs Israel, US Picu Risk-Off di Pasar Global
Pada 28 Februari 2026, Israel bersama Amerika Serikat meluncurkan operasi militer bertajuk Epic Fury yang menargetkan lebih dari 1.000 titik strategis di Iran. Dalam serangan tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas, bersama sejumlah pejabat tinggi negara termasuk Panglima IRGC dan Menteri Pertahanan. Peristiwa ini menjadi perubahan kepemimpinan paling signifikan di Iran sejak Revolusi 1979.
Ketegangan antara Iran dan Israel kembali menjadi katalis utama sentimen pasar global. Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah mendorong pergeseran sikap investor ke mode risk-off, ditandai dengan peningkatan permintaan terhadap aset lindung nilai seperti obligasi pemerintah AS dan emas.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke kisaran 3,95%. Mencerminkan meningkatnya permintaan aset aman serta ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat melanjutkan pelonggaran kebijakan jika tekanan ekonomi meningkat.
Tak hanya itu, harga Brent Crude Oil naik didorong kekhawatiran gangguan distribusi energi dari kawasan Timur Tengah yang menyumbang sekitar 30% pasokan minyak global. Setiap potensi disrupsi pasokan di kawasan ini secara historis memicu lonjakan premi risiko energi. Harga emas juga naik hampir 1% ke atas USD 5.220 per ons, mempertegas preferensi investor terhadap aset defensif di tengah ketidakpastian geopolitik.
Indeks dolar AS naik di atas 98 pada Senin, mencapai level tertinggi dalam lima minggu terakhir, seiring para investor mencari aset safe-haven di tengah eskalasi perang di Timur Tengah. AS dan Israel melakukan serangan militer terhadap Iran pada akhir pekan lalu, dan penutupan efektif Selat Hormuz. Tehran membalas dengan menargetkan aset AS di seluruh wilayah, memicu kekhawatiran akan konflik yang lebih luas.
Domestik: Pasar Keuangan Tetap Resilien ketika Perang Iran vs Israel, US
Di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik Timur Tengah dan sentimen risk-off di pasar internasional, pasar keuangan Indonesia menunjukkan ketahanan yang relatif solid.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi terbatas sebesar 0,7% ke level 8.174, mengikuti pelemahan bursa global. Meski demikian, volatilitas masih berada dalam rentang yang terkontrol.
Di pasar valas, nilai tukar Rupiah bergerak stabil di kisaran Rp16.760–16.787 per dolar AS. Stabilitas ini mencerminkan fundamental eksternal yang relatif terjaga, didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta koordinasi kebijakan antara Bank Indonesia dan pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi.
Dari sisi pasar obligasi, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun turun ke 6,43%, sejalan dengan tren penurunan yield global.I
Secara keseluruhan, meskipun tekanan global meningkat, kombinasi stabilitas nilai tukar, permintaan obligasi yang kuat, serta kebijakan fiskal yang terukur menunjukkan bahwa fondasi makroekonomi Indonesia tetap relatif kokoh dalam menghadapi gejolak eksternal.
Capital Market & Fund Performance


Ayovest’s Wrap : Perang Iran vs Israel, US Dorong Risk-Off -Pasar Domestik Tetap Terjaga
Dalam kondisi meningkatnya sentimen risk-off global, strategi investasi berbasis keseimbangan dan disiplin alokasi aset menjadi semakin relevan. Reksa dana pendapatan tetap berpotensi mendapat sentimen positif seiring tren penurunan yield, yang dapat membuka ruang kenaikan harga obligasi. Sementara itu, reksa dana pasar uang tetap menjadi pilihan untuk menjaga likuiditas dan stabilitas nilai di tengah volatilitas pasar.
Dengan kata lain, gejolak eksternal memang meningkatkan kehati-hatian pasar, namun stabilitas domestik memberikan ruang bagi investor untuk tetap rasional dalam menyusun portofolio. Diversifikasi dan penyesuaian alokasi aset sesuai profil risiko tetap menjadi kunci dalam menghadapi dinamika global saat ini.
Ketidakpastian global bukan selalu ancaman, tetapi momentum untuk membangun portofolio yang lebih disiplin, dan terdiversifikasi.
Glosarium :
Alokasi Aset Strategi pembagian dana investasi ke dalam berbagai instrumen seperti saham, obligasi, dan pasar uang sesuai dengan tujuan dan profil risiko investor.
Brent Crude Oil Harga minyak mentah acuan internasional yang menjadi referensi utama perdagangan minyak global.
Cadangan Devisa Simpanan aset valuta asing yang dimiliki bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar serta memenuhi kewajiban internasional.
Diversifikasi Strategi menyebar investasi ke berbagai jenis aset untuk mengurangi risiko fluktuasi dari satu instrumen tertentu.
IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) Indeks yang mencerminkan pergerakan seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.
Risk-Off Kondisi ketika investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko seperti saham dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman seperti obligasi dan emas.
Rupiah Mata uang resmi Indonesia yang pergerakannya terhadap dolar AS sering menjadi indikator stabilitas eksternal ekonomi nasional.
Safe Haven Aset yang dinilai relatif aman dan stabil saat terjadi ketidakpastian ekonomi atau geopolitik, seperti emas dan obligasi pemerintah negara maju.
SUN (Surat Utang Negara) Obligasi yang diterbitkan pemerintah Indonesia untuk membiayai kebutuhan anggaran negara.
Tenor Jangka waktu hingga jatuh tempo suatu instrumen investasi, khususnya obligasi.
The Fed (Federal Reserve) Bank sentral Amerika Serikat yang menetapkan kebijakan suku bunga dan memengaruhi likuiditas global.
US Treasury 10 Tahun Obligasi pemerintah Amerika Serikat dengan tenor 10 tahun yang menjadi acuan utama (benchmark) suku bunga global.
Volatilitas Tingkat fluktuasi atau naik-turun harga suatu aset dalam periode tertentu.
Yield (Imbal Hasil) Tingkat keuntungan yang diperoleh investor dari suatu instrumen investasi, khususnya obligasi. Ketika yield turun, harga obligasi umumnya naik, dan sebaliknya.






