Banyak investor menganggap awal tahun adalah “momen sempurna” untuk mulai berinvestasi di pasar modal. Pergantian tahun sering dikaitkan dengan optimisme baru, resolusi keuangan, hingga ekspektasi kinerja pasar yang lebih baik. Fenomena ini biasa disebut sebagai the fresh start effect atau dorongan psikologis untuk memulai sesuatu yang lebih baik di tahun awal tahun baru. Namun, bagi investor, awal tahun justru menjadi momen yang perlu disikapi dengan lebih hati-hati. Bukan karena pesimis, melainkan karena kondisi pasar modal di awal tahun seringkali belum mencerminkan kondisi yang belum benar-benar stabil.
Pasar saham Indonesia di awal 2026 bisa menjadi contoh yang cukup jelas. Dalam 1 bulan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja positif. IHSG naik sekitar 1,17% ditutup di level 8.748,13 pada awal Januari 2026 (2/1/2026) dan sempat menembus rekor all time high di level 9.174,474 (10:38) pada pertengahan Januari (20/1/2026).
Namun, tidak lama setelah itu, pergerakan IHSG berbalik arah. Pada 28 Januari 2026, IHSG anjlok hingga -7,34% ke level 8.321 pada perdagangan sesi pertama, lalu kembali terkoreksi sekitar -1,06% pada perdagangan 29 Januari 2026.
Mengapa Investor Perlu Menyikapi Volatilitas Awal Tahun dengan Hati-hati?
Koreksi tajam yang terjadi dalam waktu singkat menunjukkan bahwa optimisme pasar modal di awal tahun bisa berubah dengan cepat. Setelah sempat mencetak rekor tertinggi, IHSG justru berbalik arah dan mengalami penurunan signifikan hanya dalam hitungan hari. Hal ini menegaskan bahwa pasar modal di awal tahun masih sangat sensitif terhadap perubahan sentimen, dan belum sepenuhnya mencerminkan kondisi yang stabil.
Dalam situasi seperti ini, risiko terbesar bagi investor tidak hanya berasa dari pergerakan pasar modal yang terjadi, tetapi dari keputusan yang diambil secara terburu-buru atau hanya berdasarkan emosi. Dorongan seperti FOMO (Fear Of Missing Out) seringkali lebih dominan, sehingga membuat investor mengambil keputusan secara agresif.
Oleh karena itu, investor berpengalaman cenderung mengambil pendekatan wait and see, yaitu dengan menunggu arah kebijakan moneter yang lebih lengkap serta kondisi pasar modal yang lebih rasional setelah euforia mereda. Dengan demikian, keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada analisis data, bukan sekadar prediksi.
Investasi Reksa Dana Ayovest sebagai Solusi Investasi Rasional di Awal Tahun
Di tengah kondisi pasar yang masih belum pasti seperti ini, selain tidak terburu-buru dan overreact (bereaksi berlebihan). Investor sebaiknya mengalokasikan dana ke instrumen yang lebih tenang, seperti instrumen dengan risiko rendah hingga menengah, bukan langsung ke aset berisiko tinggi. Pendekatan ini membantu menjaga stabilitas portofolio sekaligus menunggu kejelasan arah pasar modal. Dalam konteks ini, reksa dana pasar uang dan reksa dana pendapatan tetap dapat menjadi pilihan yang relevan bagi investor.
Melalui Ayovest, investor dapat memanfaatkan investasi reksa dana pasar uang sebagai strategi “parkir dana” yang lebih rasional. Reksa dana pasar uang cocok digunakan untuk kebutuhan jangka pendek (kurang dari 1 tahun) dan menjaga likuiditas, sementara reksa dana pendapatan tetap menawarkan potensi imbal hasil yang relatif stabil dengan tingkat risiko yang lebih rendah dibandingkan saham.
Dengan begitu, investor tetap bisa mengembangkan dana lebih rasional tanpa harus terburu-buru mengejar momentum pasar yang belum sepenuhnya memberikan kepastian.
Download aplikasi Ayovest sekarang dan mulai investasi reksa dana secara rasional, tanpa terburu-buru.
DISCLAIMER: INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. SEBELUM MEMUTUSKAN BERINVESTASI, CALON INVESTOR WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS. KINERJA MASA LALU TIDAK MENJAMIN/ MENCERMINKAN INDIKASI KINERJA DI MASA YANG AKAN DATANG.
Reksa dana merupakan produk Pasar Modal dan bukan produk yang diterbitkan oleh Agen Penjual Efek Reksa Dana. PT Generasi Paham Investasi selaku Agen Penjual Efek Reksa Dana tidak bertanggung jawab atas tuntutan dan risiko pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Investor wajib membaca dan memahami Fund Fact Sheet dan Prospektus dari produk yang diterbitkan oleh Manajer Investasi untuk kebutuhan informasi dan bukan merupakan suatu bentuk penawaran atau rekomendasi untuk membeli atau permintaan untuk menjual. Kinerja masa lalu tidak serta merta menjadi petunjuk untuk kinerja di masa mendatang, dan bukan juga merupakan perkiraan yang dibuat untuk memberikan indikasi mengenai kinerja atau kecenderungannya di masa mendatang.
Glosarium:
Fresh start effect: momen psikologis yang menjelaskan “temporal landmarks” (titik balik dalam waktu tertentu), seperti awal tahun baru, terasa seperti kesempatan untuk meninggalkan kebiasaan lama dan memulai kembali.
IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan): Indikator utama yang mencerminkan kinerja keseluruhan saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Penurunan IHSG menandakan melemahnya sentimen pasar secara luas.
Volatilitas: Ukuran seberapa besar dan cepat harga saham atau indeks bergerak naik-turun. Volatilitas tinggi berarti risiko jangka pendek meningkat.
Fluktuasi: gejala yang menunjukkan turun-naiknya harga.






