Key Takeaways
Global
- Yield obligasi AS berfluktuasi seiring ekspektasi kebijakan moneter
- Harga emas bertahan di atas USD 5.000 per ons
- Minyak Brent naik akibat risiko pasokan Timur Tengah
- Saham AS masih mencatat kenaikan terbatas
Domestic
- IHSG melemah secara bulanan di -3,67 %; Rupiah sempat menyentuh di level Rp16.981 dan ditutup ke level Rp 16.785
- Suku Bunga BI yang ditahan pada level 4.75%
- Yield SUN 10 Tahun ditutup pada 6,346 %
- Inflasi yang meningkat di Februari menjadi 3,55% secara YoY
Bulan Februari 2026 menjadi periode yang penuh dinamika bagi pasar keuangan global dan domestik, dengan perkembangan yang turut memengaruhi ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Di tengah gejolak yang dipicu oleh ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed, eskalasi geopolitik, serta pergeseran fundamental ekonomi global, investor dihadapkan pada volatilitas pasar yang cukup tinggi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun tak luput dari tekanan, meskipun di sisi lain pasar obligasi Indonesia menunjukkan ketahanan dengan fundamental yang relatif terjaga. Laporan monthly ini merangkum berbagai perkembangan penting yang memengaruhi pasar dan ekonomi Indonesia sepanjang Februari 2026.
Pasar Global: Dari Rekor Dow Jones hingga Ketegangan Geopolitik
Sepanjang Februari 2026, pasar keuangan global bergerak dalam fase transisi sentimen yang diwarnai volatilitas cukup tinggi. Kombinasi ketidakpastian arah suku bunga Amerika Serikat, dinamika geopolitik, serta data inflasi yang beragam membuat sentimen risk-off sempat mendominasi sebagian besar pergerakan pasar.
Di awal bulan, investor kembali menghadapi realitas bahwa suku bunga tinggi kemungkinan bertahan lebih lama. Data ekonomi Amerika Serikat yang masih relatif kuat membuat ekspektasi penurunan suku bunga menjadi lebih terbatas. Hal ini tercermin dari imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang sempat naik menuju kisaran 4,2%, mencerminkan pandangan bahwa pelonggaran moneter dari Federal Reserve tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Kenaikan yield tersebut biasanya memberikan tekanan terhadap pasar obligasi global serta mendorong arus modal keluar dari sebagian pasar negara berkembang.
Meski demikian, pasar saham Amerika Serikat sempat menunjukkan ketahanan pada awal bulan. Dow Jones Industrial Average bahkan berhasil menembus level psikologis 50.000, mencerminkan optimisme investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dan kinerja korporasi AS. Namun euforia tersebut tidak bertahan lama. Pada pekan-pekan berikutnya, pasar saham—terutama sektor teknologi dan kecerdasan buatan mengalami aksi ambil untung (profit taking) setelah reli panjang yang mendorong valuasi ke level tinggi.
Ketidakpastian pasar juga diperparah oleh dinamika politik domestik di Amerika Serikat. Mahkamah Agung AS membatalkan kebijakan tarif global yang sebelumnya diusulkan oleh Donald Trump. Respons politik terhadap keputusan tersebut memunculkan wacana penerapan kebijakan pajak impor baru, yang kembali memicu kekhawatiran akan potensi disrupsi perdagangan dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi global.
Memasuki paruh kedua bulan Februari, tekanan di pasar obligasi mulai mereda. Data inflasi yang lebih moderat mendorong penurunan imbal hasil US Treasury 10 tahun hingga ke kisaran 3,97% pada 27 Februari, yang merupakan level terendah dalam sekitar empat bulan. Meski demikian, beberapa pejabat Federal Reserve tetap menekankan pendekatan kebijakan yang hati-hati. Pejabat Federal Reserve seperti Beth Hammack dari Cleveland Fed mengindikasikan bahwa suku bunga kemungkinan akan tetap berada pada level tinggi lebih lama guna memastikan inflasi benar-benar kembali menuju target 2%.Federal Reserve Board – H.15 – Selected Interest Rates (Daily) – March 05, 2026
Di sisi lain, faktor geopolitik turut memainkan peran penting dalam volatilitas pasar komoditas. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, terutama terkait isu negosiasi nuklir, meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global. Situasi ini mendorong harga minyak mentah Brent naik mendekati USD 72 per barel, level tertinggi dalam sekitar enam bulan.
Ketidakpastian makro dan geopolitik tersebut juga meningkatkan permintaan terhadap aset lindung nilai. Harga emas sempat mengalami koreksi di awal bulan, namun kemudian rebound signifikan. Sepanjang Februari, emas mencatat kenaikan lebih dari 6%, ditopang oleh permintaan bank sentral serta kebutuhan investor untuk melindungi portofolio dari volatilitas pasar.
Secara keseluruhan, dinamika Februari mencerminkan pola yang cukup umum dalam siklus pasar global: investor tetap mencari peluang pertumbuhan, namun secara bersamaan meningkatkan eksposur pada aset defensif sebagai perlindungan terhadap risiko makroekonomi.
Pasar Domestik: Kondisi Ekonomi Indonesia di Tengah Tekanan Global
Tekanan dari dinamika pasar global turut terasa di pasar keuangan domestik sepanjang Februari 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah secara bulanan, mencerminkan kehati-hatian investor di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Koreksi terdalam terjadi pada 6 Februari 2026, ketika IHSG turun sekitar 2,08%. Secara keseluruhan pergerakan pasar saham domestik masih berada dalam fase konsolidasi, dengan investor cenderung menunggu arah kebijakan suku bunga global serta perkembangan kondisi geopolitik.
Tekanan juga terlihat pada nilai tukar rupiah. Di tengah penguatan dolar AS dan meningkatnya kehati-hatian investor global terhadap aset emerging markets, rupiah sempat melemah hingga mendekati Rp16.880 per dolar AS pada pertengahan Februari, mendekati level terlemah yang tercatat pada bulan sebelumnya.
Di tengah tekanan pada pasar saham dan nilai tukar, pasar obligasi pemerintah Indonesia (Surat Utang Negara/SUN) justru menunjukkan ketahanan yang relatif solid. Sepanjang Februari, yield SUN tenor 10 tahun bergerak stabil di kisaran 6,41% hingga 6,46%, mengindikasikan persepsi risiko yang masih terkendali serta minat investor yang tetap kuat terhadap instrumen pendapatan tetap domestik. Hal ini juga tercermin dari hasil lelang SUN pada 18 Februari 2026, di mana pemerintah berhasil menyerap dana sekitar Rp40 triliun, menunjukkan tingkat kepercayaan pasar yang masih terjaga.
Sementara itu, dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia kembali mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur Februari 2026. Keputusan tersebut mencerminkan sikap kebijakan yang cenderung hawkish, dengan fokus utama menjaga stabilitas nilai tukar serta memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5% ±1% untuk periode 2026–2027. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa kebijakan ini juga diarahkan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Di tengah dinamika pasar tersebut, fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih menunjukkan ketahanan yang cukup solid. Badan Pusat Statistik melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 mencapai 5,11% secara tahunan (YoY), menjadi salah satu kinerja terbaik dalam tiga tahun terakhir. Pertumbuhan ini didorong oleh kuatnya konsumsi domestik, peningkatan investasi, serta kontribusi sektor manufaktur dan ekspor.
Namun demikian, sentimen pasar sempat terpengaruh oleh keputusan Moody’s Investors Service yang menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari “stabil” menjadi “negatif” pada 5 Februari 2026, meskipun peringkat kredit tetap dipertahankan pada level Baa2 (investment grade). Penyesuaian outlook tersebut didasarkan pada kekhawatiran terhadap potensi penurunan prediktabilitas kebijakan di masa depan.
Secara keseluruhan, dinamika Februari menunjukkan bahwa pasar keuangan domestik lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, sementara fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang relatif kuat.
Capital & Fund Performance


Ayovest’s Wrap: Ekonomi Indonesia-Stabil di Tengah Transisi Sentimen Global
Februari bukan bulan krisis, melainkan bulan transisi sentimen. Pasar global bergerak cepat dari fase optimisme pertumbuhan di awal bulan menuju kehati-hatian yang lebih dalam akibat eskalasi risiko geopolitik di penghujung periode. Dari euforia Wall Street hingga meningkatnya tensi di Timur Tengah, investor global sepanjang bulan berada dalam mode waspada.
Namun di tengah dinamika tersebut, pasar keuangan Indonesia menunjukkan ketahanan yang patut diapresiasi. Tekanan yang terjadi lebih bersifat eksternal dan sementara, bukan struktural. Rupiah relatif stabil, pasar obligasi tetap diminati, dan IHSG tidak mengalami guncangan berlebihan. Hal ini menegaskan bahwa fundamental makro ekonomi Indonesia didukung kebijakan moneter yang hati-hati, cadangan devisa yang memadai, serta pertumbuhan ekonomi yang solid masih menjadi perisai efektif terhadap gejolak eksternal.
Bagi investor, Februari kembali menegaskan pentingnya disiplin dalam alokasi aset dan diversifikasi. Volatilitas bukan selalu ancaman, melainkan bagian dari siklus pasar yang perlu dihadapi dengan strategi terukur. Kombinasi antara reksa dana pasar uang untuk likuiditas, reksa dana pendapatan tetap untuk stabilitas, serta akumulasi bertahap pada reksa dana saham untuk pertumbuhan jangka panjang tetap menjadi pendekatan yang relevan.
Ketidakpastian bukan akhir. Ia adalah ruang bagi investor yang disiplin untuk menata ulang portofolio dengan lebih bijak dan strategis.
DISCLAIMER: INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. SEBELUM MEMUTUSKAN BERINVESTASI, CALON INVESTOR WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS. KINERJA MASA LALU TIDAK MENJAMIN/ MENCERMINKAN INDIKASI KINERJA DI MASA YANG AKAN DATANG.
Reksa dana merupakan produk Pasar Modal dan bukan produk yang diterbitkan oleh Agen Penjual Efek Reksa Dana. PT Generasi Paham Investasi selaku Agen Penjual Efek Reksa Dana tidak bertanggung jawab atas tuntutan dan risiko pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Investor wajib membaca dan memahami Fund Fact Sheet dan Prospektus dari produk yang diterbitkan oleh Manajer Investasi untuk kebutuhan informasi dan bukan merupakan suatu bentuk penawaran atau rekomendasi untuk membeli atau permintaan untuk menjual. Kinerja masa lalu tidak serta merta menjadi petunjuk untuk kinerja di masa mendatang, dan bukan juga merupakan perkiraan yang dibuat untuk memberikan indikasi mengenai kinerja atau kecenderungannya di masa mendatang.
Glosarium
Aksi Ambil Untung (Profit Taking): Strategi investor menjual aset yang sebelumnya telah mengalami kenaikan harga untuk merealisasikan keuntungan. Fenomena ini sering terjadi setelah periode kenaikan pasar yang kuat, seperti pada saham teknologi di Amerika Serikat setelah reli panjang.
Asset Safe Haven: Instrumen investasi yang dianggap relatif aman dan cenderung diminati ketika pasar mengalami ketidakpastian atau volatilitas tinggi. Contoh aset safe haven yang sering digunakan investor adalah emas, obligasi pemerintah negara maju, dan dolar AS.
BI-Rate: Suku bunga acuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia sebagai instrumen utama kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta mendukung pertumbuhan ekonomi. Pada Februari 2026, BI mempertahankan BI-Rate di level 4,75%.
Brent Crude Oil: Salah satu acuan harga minyak mentah global yang berasal dari ladang minyak di Laut Utara. Harga minyak Brent sering digunakan sebagai benchmark internasional untuk menentukan harga minyak dunia.
Dow Jones Industrial Average (DJIA): Indeks saham utama di Amerika Serikat yang terdiri dari 30 perusahaan besar dan berpengaruh. Dow Jones sering digunakan sebagai indikator utama kondisi pasar saham AS dan sentimen ekonomi global.
Emerging Markets: Kelompok negara dengan ekonomi yang sedang berkembang dan memiliki potensi pertumbuhan tinggi, seperti Indonesia, India, Brasil, dan Meksiko. Pasar negara berkembang sering dipengaruhi oleh arus modal global dan perubahan kebijakan moneter negara maju.
Ekspektasi Suku Bunga: Perkiraan investor terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral di masa depan. Ekspektasi ini sangat memengaruhi pergerakan pasar obligasi, saham, dan nilai tukar.
Federal Reserve (The Fed): Bank sentral Amerika Serikat yang bertanggung jawab mengatur kebijakan moneter, termasuk menetapkan suku bunga acuan. Kebijakan The Fed memiliki pengaruh besar terhadap pasar keuangan global.
Hawkish: Sikap kebijakan moneter yang cenderung ketat dengan tujuan mengendalikan inflasi, biasanya melalui suku bunga yang relatif tinggi.
IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan): Indeks utama pasar saham Indonesia yang mencerminkan kinerja seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). IHSG sering digunakan sebagai indikator kondisi pasar saham dan sentimen investor di Indonesia.
Inflasi: Kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam suatu periode waktu tertentu. Inflasi biasanya diukur dalam persentase tahunan (YoY). Pada Februari 2026, inflasi Indonesia tercatat sekitar 3,55% secara tahunan.
Investment Grade: Kategori peringkat kredit yang menunjukkan bahwa suatu negara atau perusahaan memiliki risiko gagal bayar yang relatif rendah. Indonesia masih mempertahankan peringkat Baa2 (investment grade) dari Moody’s.
Moody’s Investors Service: Lembaga pemeringkat kredit internasional yang menilai kemampuan suatu negara atau perusahaan dalam memenuhi kewajiban utangnya.
Obligasi: Instrumen utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau perusahaan untuk memperoleh pendanaan. Investor yang membeli obligasi akan menerima pembayaran bunga secara berkala serta pengembalian pokok pada saat jatuh tempo.
Outlook Peringkat Kredit: Pandangan lembaga pemeringkat terhadap kemungkinan perubahan peringkat kredit suatu negara atau perusahaan di masa depan. Outlook dapat berupa positif, stabil, atau negatif.
Risk-Off: Kondisi pasar ketika investor cenderung mengurangi risiko dengan menjual aset berisiko seperti saham dan beralih ke aset yang lebih aman seperti emas atau obligasi pemerintah.
Rupiah: Mata uang resmi Indonesia yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti inflasi, arus modal global, kebijakan moneter, serta kondisi ekonomi domestik.
Surat Utang Negara (SUN): Instrumen obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia untuk membiayai kebutuhan anggaran negara. SUN menjadi salah satu instrumen investasi utama di pasar obligasi domestik.
US Treasury: Obligasi pemerintah Amerika Serikat yang dianggap sebagai salah satu instrumen investasi paling aman di dunia. Pergerakan yield US Treasury sering menjadi acuan bagi pasar obligasi global.
US Treasury 10-Year Yield: Tingkat imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dengan tenor 10 tahun. Yield ini sering digunakan sebagai indikator ekspektasi pasar terhadap inflasi, suku bunga, dan kondisi ekonomi global.
Volatilitas: Tingkat fluktuasi harga suatu aset dalam periode tertentu. Semakin tinggi volatilitas, semakin besar pergerakan naik atau turun harga suatu aset.
Yield Obligasi: Tingkat imbal hasil yang diperoleh investor dari investasi pada obligasi. Yield biasanya bergerak berlawanan arah dengan harga obligasi.






