Key Takeaways
Sentimen Global
- Dolar AS menguat didukung data tenaga kerja yang solid, menunda ekspektasi penurunan suku bunga The Fed dalam waktu dekat
- Eropa menunjukkan pelemahan pertumbuhan dengan tren disinflasi yang berlanjut, mendorong penurunan yield surat utang negara di kawasan Eropa.
- Ketegangan geopolitik (Iran, Venezuela) mendorong kenaikan harga minyak
Sentimen Domestik
- Inflasi Indonesia Desember 2025 naik ke 2,92% YoY dengan inflasi bulanan 0,64% MoM, masih dalam kisaran target Bank Indonesia.
- Rupiah melemah terbatas ke kisaran IDR16.800–16.850/USD, sejalan dengan penguatan dolar AS dan sentimen risiko global
- Pasar obligasi Indonesia relatif terkoreksi tipis, namun asing mencatatkan net buy ±IDR1.44 triliun, mencerminkan kepercayaan terhadap fundamental domestik
- Cadangan devisa melonjak signifikan ke USD156,5 miliar, memperkuat ketahanan eksternal Indonesia
Global Market Sentiment: Pasar Menguji Kesabaran The Fed
Memasuki pekan pertama penuh di 2026, pasar global bergerak dalam nada hati-hati. Dolar AS kembali menguat setelah data tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan kinerja yang kuat, memperlambat ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat. Kinerja pasar tenaga kerja yang robust ini menjaga dolar tetap menarik bagi investor global, di tengah ekspektasi kebijakan moneter yang cenderung hati-hati. Sementara dari Eropa, Zona Euro mencatat tren inflasi yang terus melambat, dengan inflasi mencapai sekitar 2% : level target Bank Sentral Eropa (ECB) di Desember 2025. Pelemahan tekanan harga ini mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Eropa menurun, terutama pada German Bunds, di mana yield 10-tahun turun signifikan seiring data inflasi yang lebih lemah dari perkiraan. Penurunan imbal hasil mencerminkan harapan pasar bahwa ECB kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga stabil dalam jangka pendek sambil mencermati perkembangan ekonomi yang masih lemah. Sentimen risiko global yang meningkat akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah (Iran) dan kawasan Amerika Latin (Venezuela) turut mendorong harga minyak naik pekan ini. Faktor geopolitik ini menambah volatilitas pasar komoditas energi, mendukung reli harga minyak yang berimbas pada sentimen pasar lebih luas.
Domestic Market Sentiment: Inflasi Naik, Stabilitas Tetap Terjaga
Dari dalam negeri, inflasi Desember 2025 menjadi sorotan utama. Inflasi tahunan Indonesia pada Desember 2025 tercatat 2,92% YoY, dengan inflasi bulanan 0,64% MoM. Angka ini tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia (2,5% ±1%), menunjukkan bahwa tekanan harga domestik secara umum masih terkendali di akhir tahun 2025. Nilai tukar rupiah bergerak melemah dalam kisaran IDR 16.800–16.850 per USD, sejalan dengan penguatan dolar AS dan sentimen pasar risiko global. Meskipun tertekan, pelemahan ini tergolong moderat dan mencerminkan pengaruh eksternal terhadap mata uang domestik. Pasar obligasi domestik menunjukkan koreksi harga yang ringan pekan ini. Namun, investor asing mencatatkan net buy sekitar IDR 1,44 triliun, mencerminkan kepercayaan pelaku global terhadap fundamental ekonomi Indonesia, khususnya dalam instrumen Surat Berharga Negara (SBN). Serta, cadangan devisa Indonesia tercatat meningkat signifikan mencapai sekitar USD 156,5 miliar, memperkuat ruang stabilitas eksternal dan kemampuan BI dalam menopang nilai tukar serta likuiditas domestik di tengah ketidakpastian global.
Capital & Fund Performance


Ayovest’s Wrap: Menjaga Keseimbangan di Awal Tahun
Di tengah dinamika global tersebut, ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan yang relatif solid. Inflasi tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia, mencerminkan terjaganya stabilitas harga domestik. Nilai tukar rupiah bergerak relatif stabil meski berada di bawah tekanan penguatan dolar AS, sementara pasar obligasi domestik tetap menarik dengan aliran dana asing yang masih terjaga. Penguatan cadangan devisa ke level yang tinggi semakin memperkuat bantalan eksternal Indonesia dalam menghadapi volatilitas global.
Memasuki awal 2026, pasar global berada dalam fase recalibration. Ketidakpastian arah suku bunga AS dan meningkatnya risiko geopolitik masih membayangi sentimen, namun di sisi domestik, fondasi makro yang solid memberikan ruang bagi stabilitas pasar keuangan. Kondisi ini mendukung persepsi positif terhadap fundamental Indonesia, meskipun kehati-hatian tetap menjadi kunci di tengah lanskap global yang belum sepenuhnya kondusif.
Bagi investor, situasi ini menegaskan pentingnya pendekatan investasi yang selektif dan terdiversifikasi. Instrumen pendapatan tetap tetap relevan sebagai penopang stabilitas portofolio, sementara eksposur pada aset berisiko perlu dibangun secara bertahap, dengan fokus pada kualitas fundamental dan sensitivitas terhadap dinamika suku bunga global.
Ayovest memandang fase awal tahun ini sebagai periode membangun fondasi, bukan momentum untuk agresivitas berlebihan. Menjaga keseimbangan antara peluang dan risiko menjadi strategi utama dalam mengarungi pasar yang masih sarat ketidakpastian, sembari tetap memanfaatkan peluang yang muncul dari fundamental domestik yang relatif kuat.
DISCLAIMER: INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. SEBELUM MEMUTUSKAN BERINVESTASI, CALON INVESTOR WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS. KINERJA MASA LALU TIDAK MENJAMIN/ MENCERMINKAN INDIKASI KINERJA DI MASA YANG AKAN DATANG.
Reksa dana merupakan produk Pasar Modal dan bukan produk yang diterbitkan oleh Agen Penjual Efek Reksa Dana. PT Generasi Paham Investasi selaku Agen Penjual Efek Reksa Dana tidak bertanggung jawab atas tuntutan dan risiko pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Investor wajib membaca dan memahami Laporan Kinerja Reksa Dana (Fund Fact Sheet) dan Prospektus dari produk yang diterbitkan oleh Manajer Investasi untuk kebutuhan informasi dan bukan merupakan suatu bentuk penawaran atau rekomendasi untuk membeli atau permintaan untuk menjual. Kinerja masa lalu tidak serta merta menjadi petunjuk untuk kinerja di masa mendatang, dan bukan juga merupakan perkiraan yang dibuat untuk memberikan indikasi mengenai kinerja atau kecenderungannya di masa mendatang.
Glosarium:
Dolar AS (USD) Mata uang Amerika Serikat yang berperan sebagai mata uang cadangan global dan sering menjadi indikator utama sentimen risiko serta arah kebijakan moneter global.
Pasar Tenaga Kerja AS Kondisi ketenagakerjaan di Amerika Serikat yang tercermin dari data seperti tingkat pengangguran dan pertumbuhan lapangan kerja, sering digunakan sebagai acuan kekuatan ekonomi AS dan arah kebijakan The Fed.
Robustrobust digunakan untuk menggambarkan kondisi ekonomi, data, atau kinerja sektor tertentu yang tetap kuat dan stabil meskipun menghadapi ketidakpastian atau tekanan eksternal.
Federal Reserve (The Fed) Bank sentral Amerika Serikat yang bertanggung jawab menetapkan kebijakan moneter, termasuk suku bunga acuan, guna menjaga stabilitas inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Kebijakan Moneter Hati-hati (Cautious Stance) Pendekatan bank sentral yang menahan perubahan kebijakan secara agresif sambil menunggu konfirmasi data ekonomi lanjutan.
Zona Euro Wilayah ekonomi yang terdiri dari negara-negara anggota Uni Eropa yang menggunakan mata uang euro dan berada di bawah kebijakan moneter Bank Sentral Eropa.
Inflasi Kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan berkelanjutan dalam suatu periode tertentu, yang memengaruhi daya beli dan stabilitas ekonomi.
Target Inflasi Kisaran inflasi yang ditetapkan bank sentral sebagai sasaran kebijakan moneter. Untuk ECB sekitar 2%, sementara Bank Indonesia berada di 2,5% ±1%.
Bank Sentral Eropa (ECB) Otoritas moneter Zona Euro yang bertugas menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi kawasan.
Imbal Hasil Obligasi (Yield) Tingkat keuntungan yang diterima investor dari kepemilikan obligasi, biasanya dinyatakan dalam persentase per tahun.
German Bund Obligasi pemerintah Jerman yang dianggap sebagai aset paling aman (safe haven) di kawasan Eropa dan sering menjadi acuan pergerakan yield obligasi regional.
Yield 10-Tahun Imbal hasil obligasi dengan tenor 10 tahun yang sering digunakan sebagai indikator ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan ekonomi dan inflasi jangka menengah–panjang.
Sentimen Risiko Global Sikap investor terhadap risiko di pasar global, dipengaruhi oleh faktor ekonomi, kebijakan moneter, dan dinamika geopolitik.
Ketegangan Geopolitik Kondisi konflik atau friksi antarnegara yang berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi dan pasar keuangan, termasuk di kawasan Timur Tengah dan Amerika Latin.
Harga Minyak Harga komoditas energi global yang sensitif terhadap faktor geopolitik, pasokan, dan permintaan, serta berdampak luas pada inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Volatilitas Tingkat fluktuasi harga aset dalam periode tertentu yang mencerminkan ketidakpastian pasar.
Inflasi YoY (Year-on-Year) Perubahan tingkat harga dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Inflasi MoM (Month-on-Month) Perubahan tingkat harga dibandingkan bulan sebelumnya.
Bank Indonesia (BI) Bank sentral Indonesia yang bertugas menjaga stabilitas nilai rupiah, inflasi, dan sistem keuangan nasional.
Nilai Tukar Rupiah Harga rupiah terhadap mata uang asing, khususnya dolar AS, yang mencerminkan keseimbangan eksternal dan sentimen pasar terhadap ekonomi Indonesia.
Pasar Obligasi Domestik Pasar perdagangan surat utang yang diterbitkan pemerintah dan korporasi Indonesia.
Net Buy Asing Kondisi ketika investor asing mencatatkan pembelian bersih aset keuangan domestik, mencerminkan minat dan kepercayaan terhadap pasar lokal.
Surat Berharga Negara (SBN) Instrumen utang yang diterbitkan Pemerintah Indonesia untuk pembiayaan anggaran dan menjadi instrumen utama di pasar obligasi domestik.
Cadangan Devisa Aset valuta asing yang dimiliki bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar, membiayai transaksi internasional, dan memperkuat ketahanan eksternal.
Stabilitas Eksternal Kemampuan suatu negara menjaga keseimbangan ekonomi eksternal, termasuk neraca pembayaran dan nilai tukar, di tengah tekanan global.
Recalibration Fase penyesuaian pasar terhadap perubahan ekspektasi ekonomi, kebijakan moneter, dan risiko global.
Fundamental Ekonomi Kondisi dasar perekonomian yang mencakup pertumbuhan, inflasi, stabilitas fiskal, dan ketahanan eksternal.
Diversifikasi Strategi penyebaran investasi ke berbagai instrumen atau aset untuk mengelola risiko portofolio.
Instrumen Pendapatan Tetap Instrumen investasi seperti obligasi yang memberikan pendapatan bunga secara berkala dan relatif stabil.
Aset Berisiko Instrumen investasi dengan potensi imbal hasil lebih tinggi namun volatilitas lebih besar, seperti saham.






