Key Takeaways
Global
- Imbal hasil US Treasury 10 tahun naik ke 4,22%, menandai kembalinya selera risiko global setelah koreksi singkat di pasar obligasi.
- Harga emas melonjak >3,5% menembus USD 4.950/oz, mencerminkan permintaan lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik dan arah suku bunga global.
- Wall Street mencetak sejarah baru, dengan Dow Jones menembus level 50.000, didorong optimisme pertumbuhan dan ketahanan ekonomi AS.
Domestik
- IHSG terkoreksi 2,08% pada Jumat (6/2/2026), mencerminkan aksi ambil untung dan tekanan sentimen global.
- Yield SUN 10 tahun naik ke 6,44%, seiring kenaikan yield global dan meningkatnya persepsi risiko.
- Rupiah melemah ke kisaran IDR 16.880/USD, mendekati level terendah bulan sebelumnya.
- Penurunan outlook kredit oleh Moody’s mendorong pelebaran risiko surat utang Indonesia.
Global Market Insight: Risiko Kembali Diterima, Volatilitas Tetap Mengintai
Pekan pertama Februari ditandai oleh pergeseran sentimen global kembali ke mode risk-on. Imbal hasil US Treasury 10 tahun naik 4 bps ke 4,22%, sebagian memulihkan penurunan tajam sehari sebelumnya, seiring investor kembali memburu aset berisiko.
Di pasar saham, optimisme tersebut mendorong Dow Jones Industrial Average mencetak rekor tertinggi baru di atas 50.000, mencerminkan keyakinan bahwa ekonomi AS masih cukup solid untuk menahan suku bunga tinggi lebih lama.
Namun, di balik euforia tersebut, permintaan terhadap aset lindung nilai justru menguat. Harga emas melonjak lebih dari 3,5% dan bertahan di atas USD 4.950 per ons, menandakan investor tetap memasang “asuransi” terhadap risiko inflasi, geopolitik, dan volatilitas kebijakan moneter.
Domestic Market Insight: Tekanan Pasar Finansial di Tengah Fondasi Ekonomi yang Masih Solid
Di dalam negeri, pasar keuangan bergerak lebih defensif. IHSG anjlok 2,08% pada Jumat (6/2/2026), menutup pekan dengan nada korektif setelah reli sebelumnya. Tekanan datang dari kombinasi pelemahan rupiah, kenaikan yield global, serta sentimen kehati-hatian investor asing.
Di pasar obligasi, imbal hasil SUN 10 tahun naik ke 6,44%, mengikuti kenaikan yield US Treasury dan mencerminkan penyesuaian premi risiko. Tekanan eksternal juga tercermin pada nilai tukar. Rupiah melemah ke sekitar IDR 16.880/USD, mendekati rekor terendah bulan sebelumnya di 16.985.
Sentimen diperberat oleh keputusan Moody’s menurunkan outlook kredit Indonesia, yang memicu pelebaran CDS dan kenaikan biaya pendanaan surat utang. Meski demikian, fundamental ekonomi domestik tetap relatif kuat. Data PDB Indonesia 2025 menunjukkan pertumbuhan 5,11% YoY, lebih tinggi dari rata-rata global dan negara berkembang, dengan dukungan investasi, konsumsi, dan ekspor bernilai tambah .
Capital Market & Fund Performance


Ayovest’s Wrap: Menavigasi Volatilitas dengan Disiplin
Pekan ini menegaskan bahwa pasar global dan domestik memasuki fase volatilitas yang lebih tinggi, di mana sentimen dapat berubah cepat seiring dinamika suku bunga global, nilai tukar, dan persepsi risiko kredit.
Bagi investor reksa dana, kondisi ini memperkuat pentingnya diversifikasi dan disiplin investasi. Reksa dana pendapatan tetap dan pasar uang tetap relevan sebagai penopang stabilitas portofolio di tengah kenaikan yield. Sementara itu, koreksi di pasar saham dapat dimanfaatkan secara bertahap oleh investor dengan profil risiko menengah tinggi dan horizon jangka panjang, dengan fokus pada aset berfundamental kuat. Di tengah fluktuasi jangka pendek, konsistensi terhadap tujuan keuangan dan manajemen risiko tetap menjadi kunci untuk menjaga kinerja portofolio sepanjang 2026.
DISCLAIMER: INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. SEBELUM MEMUTUSKAN BERINVESTASI, CALON INVESTOR WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS. KINERJA MASA LALU TIDAK MENJAMIN/ MENCERMINKAN INDIKASI KINERJA DI MASA YANG AKAN DATANG.
Reksa dana merupakan produk Pasar Modal dan bukan produk yang diterbitkan oleh Agen Penjual Efek Reksa Dana. PT Generasi Paham Investasi selaku Agen Penjual Efek Reksa Dana tidak bertanggung jawab atas tuntutan dan risiko pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Investor wajib membaca dan memahami Laporan Kinerja Reksa Dana (Fund Fact Sheet) dan Prospektus dari produk yang diterbitkan oleh Manajer Investasi untuk kebutuhan informasi dan bukan merupakan suatu bentuk penawaran atau rekomendasi untuk membeli atau permintaan untuk menjual. Kinerja masa lalu tidak serta merta menjadi petunjuk untuk kinerja di masa mendatang, dan bukan juga merupakan perkiraan yang dibuat untuk memberikan indikasi mengenai kinerja atau kecenderungannya di masa mendatang.
Glosarium:
A
Aksi Ambil Untung (Profit Taking):
Tindakan investor menjual aset setelah mengalami kenaikan harga untuk merealisasikan keuntungan, yang sering memicu koreksi pasar jangka pendek.
Aset Lindung Nilai (Hedging Asset):
Instrumen investasi yang digunakan untuk melindungi nilai portofolio dari risiko tertentu seperti inflasi, gejolak geopolitik, atau volatilitas pasar. Emas merupakan contoh utama aset lindung nilai.
B
Badan Pusat Statistik (BPS):
Lembaga pemerintah non-kementerian yang bertugas mengumpulkan, mengolah, menganalisis, dan menyajikan data statistik resmi Indonesia.
Basis Poin (Basis Points / bps):
Satuan perubahan suku bunga atau yield, di mana 1 basis poin setara dengan 0,01%.
C
CDS (Credit Default Swap):
Instrumen derivatif yang mencerminkan biaya perlindungan terhadap risiko gagal bayar suatu negara atau perusahaan. Pelebaran CDS menandakan meningkatnya risiko kredit.
D
Diversifikasi Portofolio:
Strategi menyebarkan investasi ke berbagai jenis aset untuk mengurangi risiko keseluruhan portofolio.
Dow Jones Industrial Average (DJIA):
Indeks saham utama Amerika Serikat yang merepresentasikan kinerja 30 perusahaan besar dan sering digunakan sebagai indikator kesehatan pasar saham AS.
G
Gejolak Geopolitik:
Ketegangan atau konflik antarnegara yang berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi dan pasar keuangan global.
H
Horizon Investasi:
Jangka waktu investor dalam menempatkan dananya sebelum tujuan keuangan tercapai, baik jangka pendek, menengah, maupun panjang.
I
IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan):
Indeks utama pasar saham Indonesia yang mencerminkan pergerakan harga seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.
Imbal Hasil (Yield):
Tingkat pengembalian yang diperoleh investor dari instrumen keuangan, terutama obligasi. Kenaikan yield biasanya mencerminkan penurunan harga obligasi dan/atau meningkatnya persepsi risiko.
N
Nilai Tukar Rupiah:
Harga rupiah terhadap mata uang asing (umumnya USD). Pelemahan rupiah dapat meningkatkan tekanan inflasi dan biaya impor.
O
Outlook Kredit:
Pandangan lembaga pemeringkat seperti Moody’s terhadap arah risiko kredit suatu negara atau institusi di masa depan, baik positif, stabil, maupun negatif.
P
Persepsi Risiko Kredit:
Penilaian investor terhadap kemampuan suatu negara atau entitas dalam memenuhi kewajiban utangnya. Persepsi risiko yang meningkat biasanya mendorong kenaikan yield obligasi.
Premi Risiko (Risk Premium):
Tambahan imbal hasil yang diminta investor sebagai kompensasi atas risiko yang lebih tinggi dibandingkan aset bebas risiko.
S
Selera Risiko (Risk Appetite):
Kecenderungan investor untuk mengambil risiko. Saat risk-on, investor cenderung memilih aset berisiko seperti saham. Saat risk-off, investor beralih ke aset yang lebih aman.
SUN (Surat Utang Negara):
Obligasi yang diterbitkan oleh Pemerintah Indonesia sebagai instrumen pembiayaan negara dan investasi pendapatan tetap bagi investor.
U
US Treasury 10 Tahun:
Obligasi pemerintah Amerika Serikat dengan tenor 10 tahun yang menjadi acuan global untuk suku bunga jangka panjang dan penilaian risiko aset keuangan dunia.
V
Volatilitas Pasar:
Tingkat fluktuasi harga aset dalam periode tertentu. Volatilitas tinggi menunjukkan meningkatnya ketidakpastian pasar.
Y
Yield SUN 10 Tahun:
Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun yang mencerminkan persepsi risiko dan ekspektasi suku bunga domestik jangka panjang.






