Key Takeaways:
Global:
- Ketegangan AS Iran di Selat Hormuz menjaga risk premium tetap tinggi
- Harga minyak di kisaran USD 90 hingga 105 per barel meningkatkan risiko inflasi
- Penurunan harga emas mencerminkan ekspektasi The Fed tetap hawkish dengan suku bunga tinggi lebih lama
Domestik:
- IHSG turun 3,38 persen ke level 7.129 akibat tekanan global dan aksi jual asing
- Rupiah melemah ke level terendah dipicu penguatan dolar AS dan arus keluar modal
- Yield SBN naik ke 6,78 persen mencerminkan peningkatan risk premium
- Bank Indonesia mempertahankan suku bunga di 4,75 persen untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi
Global Market Overview
Pergerakan pasar global sepanjang pekan dipengaruhi kuat oleh dinamika geopolitik, khususnya terkait ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz. Meskipun terdapat indikasi awal de-eskalasi konflik antara Israel dan Lebanon, kebuntuan negosiasi di kawasan Teluk Persia tetap menjaga premi risiko pada level tinggi.
Ketidakpastian ini berdampak langsung pada pasar energi. Harga minyak mentah WTI bertahan di kisaran USD 90 hingga USD 105 per barel, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan global. Lonjakan harga energi ini berpotensi mendorong inflasi kembali naik, terutama melalui peningkatan biaya produksi dan distribusi.
Di sisi lain, harga emas justru mengalami koreksi ke kisaran USD 4.670 per ons. Hal ini mencerminkan perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter global, di mana bank sentral, khususnya The Fed, diperkirakan akan tetap mempertahankan kebijakan yang ketat guna meredam tekanan inflasi.
Domestic Market Overview
Dampak dari sentimen global langsung tercermin pada pasar domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam sebesar 3,38% dan ditutup di level 7.129,49 pada akhir pekan. Penurunan ini terjadi selama lima hari perdagangan berturut-turut, dipicu oleh kombinasi tekanan eksternal dan aksi jual investor asing.
Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah sempat menyentuh level terlemah sepanjang masa di Rp17.308 per dolar AS pada 23 April 2026. Tekanan ini terutama berasal dari penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, serta arus keluar modal dari pasar domestik. Namun, intervensi aktif Bank Indonesia berhasil menahan pelemahan lebih lanjut, dengan rupiah ditutup sedikit menguat di level Rp17.229 per dolar AS.
Sementara itu, pasar obligasi juga mengalami tekanan. Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun meningkat signifikan ke level 6,78%, seiring dengan meningkatnya premi risiko dan aksi jual investor asing yang tercatat mencapai Rp1,5 triliun.
Dalam merespons kondisi ini, Bank Indonesia memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%. Kebijakan ini mencerminkan fokus utama otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi di tengah ketidakpastian global yang meningkat.
Capital & Fund Performance :


Ayovest’s Wrap
Meskipun pasar menghadapi tekanan dari faktor eksternal, fundamental ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan, memberikan fondasi yang cukup kuat bagi stabilitas jangka menengah.
Namun demikian, dalam jangka pendek, arah pasar masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika global, khususnya terkait geopolitik dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Dalam menghadapi kondisi ini, Ayovest melihat beberapa pendekatan strategis yang dapat dipertimbangkan oleh investor. Fokus dapat diarahkan pada sektor-sektor yang relatif lebih tahan terhadap tekanan inflasi, seperti energi dan komoditas, serta perusahaan dengan arus kas yang kuat. Selain itu, kenaikan yield di pasar obligasi juga membuka peluang bagi investor untuk memanfaatkan instrumen fixed income, khususnya pada tenor yang lebih pendek sebagai bagian dari strategi perlindungan portofolio.
Di sisi lain, perkembangan geopolitik tetap perlu menjadi perhatian utama. Setiap gangguan terhadap distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz, berpotensi memberikan dampak langsung terhadap inflasi dan stabilitas ekonomi domestik.
DISCLAIMER: INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. SEBELUM MEMUTUSKAN BERINVESTASI, CALON INVESTOR WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS. KINERJA MASA LALU TIDAK MENJAMIN/ MENCERMINKAN INDIKASI KINERJA DI MASA YANG AKAN DATANG.
Reksa dana merupakan produk Pasar Modal dan bukan produk yang diterbitkan oleh Agen Penjual Efek Reksa Dana. PT Generasi Paham Investasi selaku Agen Penjual Efek Reksa Dana tidak bertanggung jawab atas tuntutan dan risiko pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Investor wajib membaca dan memahami Fund Fact Sheet dan Prospektus dari produk yang diterbitkan oleh Manajer Investasi untuk kebutuhan informasi dan bukan merupakan suatu bentuk penawaran atau rekomendasi untuk membeli atau permintaan untuk menjual. Kinerja masa lalu tidak serta merta menjadi petunjuk untuk kinerja di masa mendatang, dan bukan juga merupakan perkiraan yang dibuat untuk memberikan indikasi mengenai kinerja atau kecenderungannya di masa mendatang.
PT Generasi Paham Investasi selaku Agen Penjual Efek Reksa Dana berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.
Glosarium :
Aksi Jual Asing (Foreign Outflow) Kondisi ketika investor asing menjual aset di pasar domestik yang dapat menekan harga saham dan nilai tukar.
Bank Indonesia (BI) Bank sentral Indonesia yang bertugas menjaga stabilitas nilai rupiah dan mengendalikan inflasi.
BI Rate (Suku Bunga Acuan) Suku bunga yang ditetapkan oleh Bank Indonesia sebagai acuan kebijakan moneter.
Capital Outflow Arus keluar dana dari suatu negara ke negara lain yang biasanya terjadi saat risiko meningkat atau imbal hasil lebih menarik di luar negeri.
De-eskalasi Penurunan tingkat konflik atau ketegangan antarnegara.
Geopolitik Kondisi politik antarnegara yang mempengaruhi stabilitas ekonomi dan pasar global.
Harga Emas (Gold Price) Harga logam mulia yang sering dianggap sebagai aset lindung nilai dan sensitif terhadap perubahan suku bunga.
Harga Minyak (Crude Oil / WTI) Harga minyak mentah dunia yang menjadi indikator utama biaya energi global dan berpengaruh terhadap inflasi.
Hawkish Sikap bank sentral yang cenderung mempertahankan suku bunga tinggi untuk mengendalikan inflasi.
Higher-for-Longer Ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama dari perkiraan pasar.
IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) Indeks yang mencerminkan kinerja seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.
Inflasi Kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam suatu periode yang mengurangi daya beli masyarakat.
Market Repricing Proses penyesuaian ulang harga aset akibat perubahan ekspektasi pasar, bukan karena perubahan fundamental.
Nilai Tukar Rupiah Harga mata uang rupiah terhadap mata uang asing terutama dolar AS yang mencerminkan stabilitas ekonomi.
Risk Premium Tambahan imbal hasil yang diminta investor untuk mengkompensasi risiko yang lebih tinggi.
Safe Haven Aset yang dianggap lebih aman saat kondisi pasar tidak stabil seperti emas atau obligasi pemerintah.
Selat Hormuz Jalur strategis pengiriman minyak dunia di Timur Tengah yang dilalui sebagian besar suplai energi global.
SBN (Surat Berharga Negara) Obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia sebagai instrumen pembiayaan negara.
The Fed (Federal Reserve) Bank sentral Amerika Serikat yang menentukan kebijakan suku bunga global dan mempengaruhi pasar keuangan dunia.
Volatilitas Pasar Pergerakan harga aset yang cepat dan tidak stabil dalam periode waktu tertentu.
Yield Obligasi (Imbal Hasil) Tingkat keuntungan yang diperoleh investor dari obligasi yang biasanya bergerak berlawanan dengan harga obligasi.









