Key Takeaways:
Global
- Eskalasi geopolitik dan meningkatnya risiko kebijakan mendorong pelemahan dolar AS, seiring ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed pada paruh kedua 2026
- Yield US Treasury bergerak volatil namun relatif stabil secara mingguan, mencerminkan tarik-menarik antara data ekonomi AS yang solid dan meredanya premi risiko geopolitik.
- Bank of Japan (BoJ) mempertahankan suku bunga di level tertinggi dalam 30 tahun, namun tanpa sinyal kenaikan lanjutan yang agresif, menyebabkan yen bergerak fluktuatif.
Domestik
- IHSG terkoreksi 1,37% secara mingguan ke level 8.951, dipengaruhi oleh pelemahan rupiah, kekhawatiran defisit fiskal, serta potensi perubahan metodologi MSCI.
- Rupiah sempat menyentuh level terlemah sepanjang masa di Rp16.981/USD, sebelum ditutup menguat ke Rp16.779/USD berkat sikap BI yang lebih berhati-hati (less dovish) dan intervensi aktif di pasar valas.
- Yield SBN naik 8–20 bps di seluruh tenor, dengan yield SUN 10 tahun mencapai 6,33%, mencerminkan tekanan eksternal dan aksi jual investor asing.
- Suku Bunga BI ditahan pada level 4.75%
Global Market Insight: Kebijakan dan Geopolitik Menguji Ketahanan Pasar
Eskalasi geopolitik di sejumlah kawasan kembali meningkatkan volatilitas pasar keuangan global. Ketidakpastian tersebut mendorong investor bersikap lebih selektif terhadap aset berisiko, meski belum memicu peralihan signifikan ke aset yang lebih aman. Dari segi nilai tukar, dolar AS mencatat kinerja mingguan terlemah dengan Indeks Bloomberg Dollar Spot turun 0.8% dan terperosok ke level terendah dalam 4 tahun terakhir sejak februari 2022, mencerminkan penurunan permintaan terhadap aset defensif.
Tak hanya itu, Yield US Treasury sempat melonjak di awal pekan akibat kekhawatiran pembalikan carry trade global, menyusul lonjakan yield obligasi pemerintah Jepang, khususnya tenor ultra panjang. Namun, tekanan tersebut mereda seiring melemahnya retorika perdagangan AS dan kuatnya permintaan pada lelang obligasi AS.
Di Jepang, keputusan BoJ (Bank of Japan) untuk mempertahankan suku bunga acuan di 0,75% disertai revisi naik proyeksi inflasi, namun tanpa komitmen kenaikan lanjutan dalam waktu dekat. Sikap ini mencerminkan dilema BoJ antara menjaga stabilitas pertumbuhan dan mengendalikan inflasi, di tengah tekanan politik domestik dan volatilitas nilai tukar yen
Domestic Market Insight: Stabilitas Dijaga, Risiko Tetap Mengintai
IHSG terkoreksi 1,37% secara mingguan ke level 8.951. Pelemahan ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik, termasuk depresiasi rupiah, meningkatnya kekhawatiran terhadap defisit fiskal, serta ketidakpastian terkait potensi perubahan metodologi MSCI, khususnya terkait penyesuaian free float emiten yang berpotensi memengaruhi aliran dana asing.
Nilai tukar rupiah mengalami volatilitas tinggi, sempat menyentuh level terlemah sepanjang masa di Rp16.981/USD, sebelum akhirnya ditutup menguat ke Rp16.779/USD. Penguatan di akhir pekan didukung oleh sikap Bank Indonesia yang lebih berhati-hati (less dovish) serta intervensi aktif di pasar valas untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Di pasar obligasi, yield Surat Berharga Negara (SBN) naik 8–20 bps di seluruh tenor, dengan yield SUN tenor 10 tahun mencapai 6,33%. Kenaikan yield ini mencerminkan tekanan eksternal, terutama dari dinamika global yield, serta aksi jual investor asing di pasar obligasi domestik.
Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%. Keputusan ini menegaskan fokus BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi, sekaligus tetap memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Market Capital & Fund Performance


Ayovest Overview: Strategi Rasional di Tengah Pasar yang Tidak Linear
Pergerakan pasar sepanjang 19–23 Januari 2026 menegaskan bahwa fase awal 2026 bukanlah periode krisis, melainkan fase ketidakpastian arah. Tekanan eksternal masih membayangi, namun fondasi domestik terutama konsumsi dan stabilitas kebijakan moneter memberikan bantalan yang penting bagi pasar Indonesia.
Ayovest memandang bahwa strategi investasi ke depan perlu lebih menekankan disiplin alokasi aset dan selektivitas, bukan sekadar respons jangka pendek terhadap volatilitas. Di pasar saham, sektor-sektor berbasis konsumsi domestik dengan rantai pasok kuat tetap menawarkan prospek struktural yang menarik. Sementara itu, di pasar obligasi, level yield yang lebih tinggi membuka peluang akumulasi bertahap bagi investor dengan horizon menengah panjang.
Dalam lanskap global yang tidak linear dan sarat risiko kebijakan, pendekatan rasional berbasis data, diversifikasi, dan manajemen risiko menjadi kunci untuk menjaga ketahanan portofolio sepanjang 2026.
DISCLAIMER: INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. SEBELUM MEMUTUSKAN BERINVESTASI, CALON INVESTOR WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS. KINERJA MASA LALU TIDAK MENJAMIN/ MENCERMINKAN INDIKASI KINERJA DI MASA YANG AKAN DATANG.
Reksa dana merupakan produk Pasar Modal dan bukan produk yang diterbitkan oleh Agen Penjual Efek Reksa Dana. PT Generasi Paham Investasi selaku Agen Penjual Efek Reksa Dana tidak bertanggung jawab atas tuntutan dan risiko pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Investor wajib membaca dan memahami Laporan Kinerja Reksa Dana (Fund Fact Sheet) dan Prospektus dari produk yang diterbitkan oleh Manajer Investasi untuk kebutuhan informasi dan bukan merupakan suatu bentuk penawaran atau rekomendasi untuk membeli atau permintaan untuk menjual. Kinerja masa lalu tidak serta merta menjadi petunjuk untuk kinerja di masa mendatang, dan bukan juga merupakan perkiraan yang dibuat untuk memberikan indikasi mengenai kinerja atau kecenderungannya di masa mendatang.
Glosarium:
Eskalasi Geopolitik Meningkatnya ketegangan global yang berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi dan pasar keuangan, serta memicu volatilitas dan penyesuaian risiko oleh investor.
Risiko Kebijakan Ketidakpastian yang bersumber dari arah dan konsistensi kebijakan moneter, fiskal, maupun perdagangan, yang memengaruhi persepsi pasar terhadap stabilitas makro.
Dolar AS Mata uang acuan global yang merefleksikan sentimen risiko internasional; pergerakannya sering mencerminkan perubahan ekspektasi kebijakan The Fed.
The Federal Reserve (The Fed) Bank sentral Amerika Serikat yang menentukan arah likuiditas global melalui kebijakan suku bunga dan pengelolaan neraca.
Yield US Treasury Imbal hasil obligasi pemerintah AS yang menjadi tolok ukur utama pasar obligasi global dan indikator ekspektasi inflasi serta pertumbuhan.
Premi Risiko Geopolitik Tambahan imbal hasil yang diminta investor atas meningkatnya ketidakpastian geopolitik; penurunannya mendukung stabilisasi pasar.
Carry Trade Strategi global yang memanfaatkan selisih suku bunga antarnegara, dengan potensi pembalikan yang dapat memicu volatilitas nilai tukar.
Bank of Japan (BoJ) Bank sentral Jepang yang kebijakannya berpengaruh signifikan terhadap likuiditas dan stabilitas pasar keuangan global.
Yen Jepang Mata uang utama Asia yang sensitif terhadap perbedaan suku bunga dan dinamika arus modal internasional.
IHSG Indeks utama pasar saham Indonesia yang mencerminkan kinerja agregat emiten domestik dan sentimen pasar.
Rupiah Mata uang Indonesia yang menjadi indikator ketahanan eksternal ekonomi dan fokus utama stabilitas moneter.
Defisit Fiskal Kondisi ketika belanja negara melampaui pendapatan, yang berdampak pada kebutuhan pembiayaan dan persepsi risiko negara.
MSCI Penyedia indeks global yang menjadi referensi investor institusional dan memengaruhi aliran modal lintas negara.
Surat Berharga Negara (SBN) Instrumen utang pemerintah yang menjadi fondasi pasar obligasi domestik.
Surat Utang Negara (SUN) Jenis SBN konvensional dengan pembayaran kupon; yield tenor 10 tahun menjadi benchmark pasar obligasi Indonesia.
Basis Poin (bps) Satuan perubahan suku bunga atau yield, setara dengan 0,01%, digunakan untuk mengukur pergerakan pasar secara presisi.
BI-Rate Suku bunga kebijakan Bank Indonesia yang menjadi acuan pengendalian inflasi, stabilitas nilai tukar, dan pertumbuhan ekonomi.
Less Dovish Sikap kebijakan moneter yang tetap akomodatif namun lebih berhati-hati terhadap pelonggaran lanjutan.
Diversifikasi Strategi penyebaran aset untuk meningkatkan ketahanan portofolio terhadap volatilitas pasar.
Manajemen Risiko Pendekatan disiplin dalam mengelola ketidakpastian guna menjaga keberlanjutan kinerja portofolio.






