Key Takeaways
Sentimen Global
- Ekonomi AS masih mixed:manufaktur melemah, namun pasar tenaga kerja tetap solid, membatasi ruang pelonggaran moneter agresif.
- Risiko energi meningkat:sanksi AS terhadap Venezuela memperketat suplai minyak dan menambah volatilitas harga.
- Implikasi global: potensi inflasi berbasis energi kembali diperhitungkan, meningkatkan risiko makro bagi negara importir energi, terutama emerging markets.
Sentimen Domestik
- Pasar obligasi domestik menguat, dengan yield SUN 10 tahun turun ke sekitar 6,12%, mencerminkan minat investor yang tetap solid di tengah ketidakpastian global.
- Investor asing masih mencatatkan net buy Rp2,08 triliun, meski aktivitas perdagangan terbatas akibat libur akhir tahun, menandakan persepsi risiko Indonesia tetap atraktif.
- IHSG mengawali 2026 dengan penguatan 1,17%, mencerminkan optimisme awal tahun dan sentimen pasar yang relatif stabil.
- Rupiah bergerak fluktuatif dan melemah terbatas di kisaran Rp16.700–Rp16.735 per USD (JISDOR) seiring likuiditas pasar yang masih tipis.
Global Market Insight
Pasar keuangan global kembali dihadapkan pada dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat. Data manufaktur AS menunjukkan pelemahan, tercermin dari indeks manufaktur regional seperti Dallas Fed Manufacturing Index yang masih berada di zona kontraksi. Namun, pelemahan sektor industri tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh pasar tenaga kerja.
Penurunan klaim pengangguran ke level terendah dalam beberapa bulan terakhir, pada akhir Desember 2025 mencatat bahwa klaim pengangguran mingguan turun ke level terendah beberapa pekan terakhir, yakni sekitar 199.000 klaim menunjukkan dinamika pasar tenaga kerja yang masih relatif solid meski konteks ekonomi lebih lemah.
Venezuela kembali menjadi pusat perhatian pasar energi global setelah Amerika Serikat memperketat sanksi terhadap ekspor minyak negara tersebut, termasuk penargetan perusahaan perantara di Hong Kong dan China. Langkah ini secara langsung mempersempit suplai minyak global di tengah kebijakan OPEC+ yang cenderung menahan peningkatan produksi.
Bagi ekonomi AS, tekanan ini menciptakan trade off kebijakan: di satu sisi AS berupaya menekan rezim Nicolás Maduro, namun di sisi lain harus mengelola dampak lanjutan terhadap harga energi domestik dan inflasi global.Meski dampak langsung sanksi terhadap Venezuela masih terbatas, pasar mulai mengantisipasi risiko inflasi berbasis energi apabila ketegangan geopolitik berlanjut. Energi memiliki efek rambatan luas terhadap harga dan ekspektasi inflasi, sehingga berpotensi menahan ruang pelonggaran kebijakan moneter. Secara global, dinamika ini meningkatkan volatilitas harga minyak dan memperbesar risiko makro bagi negara-negara importir energi, khususnya emerging markets.
Domestic Market Insight
Berbeda dengan pasar obligasi AS, pasar surat utang Indonesia justru mencatatkan penguatan moderat. Yield SUN turun di hampir seluruh tenor, dengan yield SUN 10 tahun berada di sekitar 6,12%selama sebulan terakhir, imbal hasil tersebut turun sebesar 0,11 poin dan 0,92 poin lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, berdasarkan kutipan imbal hasil antarbank di pasar over-the-counter untuk tenor obligasi pemerintah ini.
Aksi beli investor asing tetap berlanjut dengan net buy mencapai Rp2,08 triliun selama periode 29 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026, meskipun volume dan nilai perdagangan relatif terbatas seiring libur akhir tahun. Total transaksi tercatat sebesar Rp65,23 triliun, lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya. Kondisi ini mencerminkan bahwa persepsi risiko terhadap pasar Indonesia tetap atraktif, bahkan di tengah ketidakpastian global dan partisipasi pasar yang belum sepenuhnya normal.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali tahun 2026 dengan penguatan, mencetak kenaikan 1,17 % dan ditutup di level 8.748,13 pada perdagangan pertama tahun ini, mencerminkan optimisme awal tahun dan sentimen pasar yang relatif stabil.
Nilai tukar rupiah bergerak fluktuatif dan menutup dengan pelemahan terbatas di sekitar Rp 16.700–16.735 per USD, seiring respons pasar terhadap kondisi likuiditas tipis musim libur tahun baru.
Fund & Capital Market Performance :


Ayovest’s Wrap: Menavigasi Awal 2026 dengan Pendekatan Selektif
Memasuki awal 2026, lanskap pasar ditandai oleh divergensi antara optimisme pertumbuhan dan kehati-hatian kebijakan moneter global. Ketahanan ekonomi AS dan dinamika geopolitik khususnya di sektor energi menjadi faktor utama yang membentuk arah pasar dalam jangka pendek.
Di sisi domestik, stabilitas makro Indonesia dan daya tarik pasar obligasi memberikan fondasi yang relatif solid bagi investor. Namun, volatilitas global masih akan mewarnai pergerakan aset berisiko.
Ayovest memandang awal 2026 sebagai fase transisi, di mana strategi investasi perlu lebih selektif, berfokus pada kualitas aset, pengelolaan durasi yang disiplin, serta diversifikasi lintas kelas aset untuk menjaga keseimbangan antara peluang dan risiko.
DISCLAIMER: INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. SEBELUM MEMUTUSKAN BERINVESTASI, CALON INVESTOR WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS. KINERJA MASA LALU TIDAK MENJAMIN/ MENCERMINKAN INDIKASI KINERJA DI MASA YANG AKAN DATANG.
Reksa dana merupakan produk Pasar Modal dan bukan produk yang diterbitkan oleh Agen Penjual Efek Reksa Dana. PT Generasi Paham Investasi selaku Agen Penjual Efek Reksa Dana tidak bertanggung jawab atas tuntutan dan risiko pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Investor wajib membaca dan memahami Laporan Kinerja Reksa Dana (Fund Fact Sheet) dan Prospektus dari produk yang diterbitkan oleh Manajer Investasi untuk kebutuhan informasi dan bukan merupakan suatu bentuk penawaran atau rekomendasi untuk membeli atau permintaan untuk menjual. Kinerja masa lalu tidak serta merta menjadi petunjuk untuk kinerja di masa mendatang, dan bukan juga merupakan perkiraan yang dibuat untuk memberikan indikasi mengenai kinerja atau kecenderungannya di masa mendatang.
Glosarium :
- Ekonomi AS (Mixed Signals) Kondisi ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan arah berbeda antar sektor, di mana pelemahan aktivitas manufaktur belum sepenuhnya diikuti oleh perlambatan pasar tenaga kerja.
- Dallas Fed Manufacturing Index Indeks regional yang mengukur aktivitas manufaktur di wilayah Federal Reserve Dallas. Angka di bawah nol menunjukkan sektor manufaktur berada dalam fase kontraksi.
- Klaim Pengangguran Mingguan (Initial Jobless Claims) Indikator jumlah klaim awal tunjangan pengangguran di AS. Penurunan klaim ke sekitar 199.000 mencerminkan pasar tenaga kerja yang masih relatif solid.
- Pelonggaran Moneter Kebijakan bank sentral untuk menurunkan suku bunga atau meningkatkan likuiditas guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Ruangnya terbatas ketika inflasi atau pasar tenaga kerja masih kuat.
- Sanksi AS terhadap Venezuela Langkah pembatasan ekonomi yang diterapkan Amerika Serikat terhadap sektor energi Venezuela, termasuk penargetan pihak yang terlibat dalam penghindaran sanksi, yang berdampak pada suplai minyak global.
- OPEC+ Kelompok negara pengekspor minyak yang mengoordinasikan kebijakan produksi. Sikap menahan peningkatan produksi dapat memperketat pasokan minyak global.
- Inflasi Berbasis Energi Tekanan inflasi yang bersumber dari kenaikan harga energi, terutama minyak, yang memiliki efek rambatan luas terhadap harga barang dan jasa.
- Emerging Markets Negara berkembang dengan pertumbuhan ekonomi relatif tinggi, namun lebih rentan terhadap volatilitas global, termasuk fluktuasi harga energi dan perubahan kebijakan moneter global.
- Yield Surat Utang Negara (SUN) Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia. Penurunan yield mencerminkan kenaikan harga obligasi dan minat investor yang kuat.
- SUN 10 Tahun Obligasi pemerintah Indonesia dengan tenor 10 tahun yang sering dijadikan acuan (benchmark) pasar obligasi domestik.
- Net Buy Investor Asing Selisih positif antara nilai pembelian dan penjualan aset oleh investor asing, mencerminkan arus modal masuk ke pasar domestik.
- IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) Indeks yang merepresentasikan kinerja keseluruhan pasar saham Indonesia.
- JISDOR Jakarta Interbank Spot Dollar Rate, kurs referensi resmi rupiah terhadap dolar AS yang diterbitkan Bank Indonesia.
- Likuiditas Pasar Kondisi ketersediaan dana dan aktivitas transaksi di pasar. Likuiditas tipis umumnya terjadi saat periode libur panjang.
- Volatilitas Global Tingkat fluktuasi harga aset keuangan global akibat faktor ekonomi, kebijakan moneter, maupun geopolitik.
- Diversifikasi Lintas Kelas Aset Strategi investasi dengan menyebar dana ke berbagai instrumen (saham, obligasi, pasar uang, dll.) untuk mengelola risiko.
- Divergensi adalah kondisi ketika arah pergerakan atau sinyal antar indikator, sektor, atau aset berbeda dan tidak sejalan, sehingga mencerminkan adanya ketidaksinkronan dalam dinamika ekonomi atau pasar.






