Key Takeaways
Global Sentiment
- Bank sentral global mulai bergerak tidak sinkron: The Fed telah memangkas suku bunga, namun yield jangka panjang tetap tinggi.
- Bank of Japan menaikkan suku bunga ke level tertinggi sejak 1995, tetapi Yen justru melemah akibat ekspektasi pasar yang belum terpenuhi.
- ECB mempertahankan sikap hati-hati, menandakan bahwa fase pemangkasan suku bunga mungkin mendekati akhir.
- Ketegangan geopolitik dan isu perdagangan termasuk hubungan AS China dan tarif kembali menjadi sumber volatilitas.
Domestic Sentiment
- BI prioritaskan stabilitas: BI Rate kembali ditahan di 4,75% untuk bulan keempat.
- Fundamental domestik solid: Inflasi tetap terkendali di 2,72% YoY dan pertumbuhan ekonomi Q3 2025 sebesar 5,04% YoY memberikan bantalan kebijakan yang relatif aman.
- Pasar bergerak defensif: IHSG terkoreksi ke level 8.609,55 dan Rupiah melema Imencerminkan sikap investor yang lebih berhati-hati di tengah meningkatnya ketidakpastian global menjelang penutupan tahun.
- Yield SUN 10Y bergerak stabil di kisaran 6,13%, mencerminkan resiliensi pasar obligasi domestik.
Global Market
Pasar global menutup pekan dengan nada yang cenderung berhati-hati. Di Amerika Serikat, pemangkasan Fed Funds Rate sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,50%–3,75% belum sepenuhnya diterjemahkan sebagai sinyal pelonggaran agresif. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun justru bertahan tinggi, menandakan bahwa pasar masih menuntut term premium yang besar di tengah ketidakpastian inflasi jangka menengah.
Di Asia, Bank of Japan menaikkan suku bunga acuannya ke 0,75%, level tertinggi sejak 1995. Namun, reaksi pasar cenderung negatif dengan pelemahan Yen, mencerminkan kekecewaan investor terhadap minimnya panduan kebijakan ke depan. Sementara itu, ECB mempertahankan suku bunga deposito di 2% dan menegaskan bahwa diskusi terkait langkah berikutnya masih prematur, di tengah ketidakpastian geopolitik dan perdagangan global .
Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah AS menyetujui paket penjualan senjata ke Taiwan, memicu respons keras dari China. Isu ini memperkuat sentimen risk-off di pasar global, terutama di kawasan emerging markets.
Domestic Market
Sepekan terakhir di penghujung tahun 2025 menjadi panggung bagi Bank Indonesia (BI) untuk menunjukkan keteguhannya. Di tengah riuh bayang-bayang kebijakan tarif AS, Indonesia memilih untuk tetap tenang dan menjaga jangkar stabilitas tetap kuat.
Fokus pasar tertuju pada keputusan Bank Indonesia yang kembali mempertahankan BI Rate di level 4,75%dalam RDG Desember 2025. Keputusan ini menandai empat bulan berturut-turut BI menahan suku bunga, setelah siklus penurunan agresif sepanjang tahun dengan total pemangkasan 125 bps. Keputusan ini adalah pesan tegas bahwa BI lebih memprioritaskan stabilitas nilai tukar Rupiah dibandingkan memacu pertumbuhan ekonomi yang saat ini sedang melambat.
Sementara itu, Inflasi November tercatat sebesar 2,72% YoY, masih dalam target BI, sementara pertumbuhan ekonomi kuartal III 2025 mencapai 5,04% YoY memberi ruang kebijakan yang relatif aman. Langkah BI mencerminkan keseimbangan kebijakan antara menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan memastikan transmisi pelonggaran moneter berjalan efektif.
Di sisi ekuitas, IHSG ditutup melemah 0,10% ke level 8.609,55 pada Jumat (19/12), dengan akumulasi koreksi 0,59% dalam sepekan dan Rupiah dalam Tekanan dimanaMata uang garuda ditutup di kisaran IDR 16.710 per dolar AS pada akhir pekan (19/12), melemah dari posisi pekan sebelumnya. Pelemahan ini dipicu oleh ketidakpastian global dan permintaan dolar yang meningkat menjelang tutup tahun.
Dan pada hasil Obligasi 10 Tahun Indonesia tetap stabil di 6,13% pada 19 Desember 2025. Selama sebulan terakhir, hasil ini turun 0,01 poin dan 0,94 poin lebih rendah dibandingkan tahun lalu.
Capital& Fund Performance


Ayovest’s Wrap
Pekan 15–19 Desember 2025 menegaskan satu tema utama: pasar global telah memasuki fase pelonggaran, tetapi jalurnya tidak akan lurus dan cepat. Kebijakan moneter global bergerak lebih berhati-hati, sementara risiko geopolitik dan perdagangan tetap menjadi faktor yang perlu dicermati.
Di sisi domestik, stabilitas makro Indonesia menjadi jangkar penting di tengah volatilitas global. Dengan inflasi terkendali dan kebijakan moneter yang konsisten, ruang untuk strategi investasi yang lebih terukur tetap terbuka.
Bagi investor reksa dana, kondisi ini menekankan pentingnya:
- Menjaga likuiditas dan fleksibilitas portofolio,
- Memanfaatkan instrumen pendapatan tetap dan produk berisiko rendah sebagai penyeimbang,
- Melakukan diversifikasi bertahap sembari menunggu arah kebijakan global yang lebih jelas.
Ayovest memandang fase akhir tahun ini bukan sebagai waktu untuk berspekulasi, melainkan momentum untuk memperkuat fondasi portofolio. Dengan pendekatan berbasis tujuan dan manajemen risiko yang disiplin, investor dapat memasuki 2026 dengan lebih percaya diri dan terarah.
DISCLAIMER: INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. SEBELUM MEMUTUSKAN BERINVESTASI, CALON INVESTOR WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS. KINERJA MASA LALU TIDAK MENJAMIN/ MENCERMINKAN INDIKASI KINERJA DI MASA YANG AKAN DATANG.
Reksa dana merupakan produk Pasar Modal dan bukan produk yang diterbitkan oleh Agen Penjual Efek Reksa Dana. PT Generasi Paham Investasi selaku Agen Penjual Efek Reksa Dana tidak bertanggung jawab atas tuntutan dan risiko pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Investor wajib membaca dan memahami Laporan Kinerja Reksa Dana (Fund Fact Sheet) dan Prospektus dari produk yang diterbitkan oleh Manajer Investasi untuk kebutuhan informasi dan bukan merupakan suatu bentuk penawaran atau rekomendasi untuk membeli atau permintaan untuk menjual. Kinerja masa lalu tidak serta merta menjadi petunjuk untuk kinerja di masa mendatang, dan bukan juga merupakan perkiraan yang dibuat untuk memberikan indikasi mengenai kinerja atau kecenderungannya di masa mendatang.
Glosarium:
Basis Poin (bps) Satuan perubahan suku bunga atau imbal hasil. 1 basis poin = 0,01%. Contoh: pemangkasan 25 bps berarti penurunan sebesar 0,25%.
BI Rate Suku bunga kebijakan Bank Indonesia yang menjadi acuan utama dalam sistem keuangan domestik, memengaruhi suku bunga perbankan, nilai tukar, dan arus modal.
Dot Plot FOMC Proyeksi suku bunga acuan Federal Reserve yang disampaikan oleh para anggota FOMC. Digunakan pasar untuk membaca arah kebijakan moneter ke depan.
Emerging Markets Negara atau kawasan dengan ekonomi yang sedang berkembang dan memiliki potensi pertumbuhan tinggi, namun umumnya lebih sensitif terhadap volatilitas global, arus modal, dan risiko geopolitik.
Fed Funds Rate Suku bunga acuan Federal Reserve (bank sentral AS) yang digunakan sebagai referensi biaya pinjaman jangka pendek di sistem keuangan Amerika Serikat.
Higher for Longer Narasi kebijakan moneter yang menggambarkan suku bunga akan bertahan di level tinggi lebih lama sebelum benar-benar diturunkan secara signifikan.
IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) Indeks yang mencerminkan kinerja keseluruhan saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.
Imbal Hasil (Yield) Tingkat keuntungan yang diperoleh investor dari instrumen keuangan, terutama obligasi, biasanya dinyatakan dalam persentase per tahun.
Inflasi Year-on-Year (YoY) Perubahan tingkat harga barang dan jasa dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Jangkar Stabilitas Istilah yang menggambarkan peran kebijakan atau variabel utama (seperti nilai tukar atau inflasi) dalam menjaga kestabilan ekonomi secara keseluruhan.
Monetary Policy Transmission Proses bagaimana kebijakan suku bunga bank sentral memengaruhi ekonomi riil melalui perbankan, konsumsi, investasi, dan pasar keuangan.
Risk-Off Sentiment Kondisi ketika investor cenderung menghindari aset berisiko dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven), seperti obligasi pemerintah atau dolar AS.
RDG (Rapat Dewan Gubernur) Forum pengambilan keputusan tertinggi Bank Indonesia terkait kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran.
SUN (Surat Utang Negara) Instrumen obligasi yang diterbitkan oleh Pemerintah Indonesia sebagai sumber pembiayaan negara dan salah satu acuan utama pasar obligasi domestik.
Term Premium Tambahan imbal hasil yang diminta investor untuk memegang obligasi jangka panjang, sebagai kompensasi atas risiko inflasi dan ketidakpastian ekonomi di masa depan.
US Treasury 10 Tahun Obligasi pemerintah Amerika Serikat dengan tenor 10 tahun, sering digunakan sebagai benchmark global untuk suku bunga jangka panjang dan aset bebas risiko.
Volatilitas Tingkat fluktuasi harga aset dalam periode tertentu. Volatilitas tinggi menandakan pergerakan pasar yang lebih tidak stabil.






